Untuk belenggu masa lalu,
Hai, apa kabar? Sudah lama tak bersua ya. Terkadang
tiba-tiba saja ingat kamu, secepat kilatan cahaya pertanyaan itu selalu muncul “kamu
lagi ngapain ya?”. Detik berikutnya aku terus menanyakan pertanyaan wajib setelahnya
“kamu pernah kepikiran aku juga nggak ya?”. Ini konyol! Harusnya aku bahagia
jika kamu tak pernah menampakkan raut mukamu di depanku lagi. Harusnya aku
gembira tak terkira jika kamu harus pindah jauh jauh jauh sekali dari kota ini.
Tapi ternyata tidak. Aku malu mengakuinya. Aku merindukanmu. Seperti
pepohonan merindukan hujan di tengah kemarau panjang.
Kamu tau tidak, aku masih hafal betul aroma tubuhmu, entah
itu minyak wangimu atau semerbak pewangi pakaian yang menempel seharian di
kemeja kesayanganmu. Aku masih ingat caramu menyibakkan rambut. Atau caramu
membenarkan kacamatamu. Atau di lengan mana kamu memakai jam tangamu. Atau
sepatu apa yang kamu pilih di hari-hari gerimis. Atau tatapan menyebalkan
milikmu saat kita berdebat seru. Atau cara bicaramu—bahkan pemilihan katamu.
Atau caramu tersenyum padaku. Aku ingat betul.
Iya, aku rindu. Seringnya jadi sendu. Tolong, jangan membenciku.
Sungguh aku ingin cerita padamu tentang hidupku—aku ingin
mengadu. Pinginnya sih berkeluh kesah seperti tempo dulu dipundakmu. Ngomel ini
itu tentang betapa nggak adilnya dunia sama aku. Meracau tentang bermacam-macam
kegelisahan. Tentang hal-hal naif yang diam-diam aku pikirkan. Marah-marah,
menyebut sumpah serapah dengan lantang, menyumpahi orang-orang menyebalkan.
Sungguh aku ingin melakukan itu sekarang. Bersamamu. Karena cuma kamu yang tau
apa yang tepat diucapkan, apa yang tepat ditindakkan, dan apa yang tepat
didiamkan.
Aku sudah lelah berusaha menghubungimu lewat semesta.
Membisikkan namamu bersama angin. Menanyakan kabarmu lewat telepati. Menemuimu
lewat mimpi. Mengirimkan firasat-firasat yang bersenyawa dengan udara. Dan
menyelipkan dirimu di tiap doa. Katanya semesta berkonspirasi? Nyatanya pesanku
tak kunjung kamu balas. Katanya semesta mengamini apa yang aku imani? Tapi
kenapa kamu belum juga sadar jika aku masih disini. Sendiri.
Bukankah menahun itu waktu yang lama untuk jatuh cinta
lagi?
Bukankah kita sama-sama telah mengikhlaskan apa yang sudah
terjadi?
Bukankah masa lalu seringnya cuma bikin candu?
Lalu kenapa aku masih saja betah menunggu?
Hujan selalu memacu rindu
Namun ketika derasnya sudah memburu
Seakan semua jadi kelabu
Menguar pilu di masa lalu
Hujan selalu serupa dirimu
Yang syahdu menjerat rindu
Namun meremukku ketika bertemu
(Rofaramadhani, Desember 2016)
Namun ketika derasnya sudah memburu
Seakan semua jadi kelabu
Menguar pilu di masa lalu
Hujan selalu serupa dirimu
Yang syahdu menjerat rindu
Namun meremukku ketika bertemu
(Rofaramadhani, Desember 2016)
![]() |
| This down town spice up my day~ |
Jadiii, semenjak kamar kosan aku sudah pindah ke lantai dua *oke itu sudah lama sekali, like a whole semester I've lived upstairs hahaha* aku memutuskan untuk mendekorasi ulang semuanya. Berawal dari eyel-eyelan sama Ibu penjaga kosan soal cat kamarnya sampe blablabla soal barang-barang lama mbak kosan yang sudah pindah tapi digeletakin gitu aja di depan kamar baruku. Tapi mengingat aku hanya akan bertahan satu tahun lagi di kamar ini, then mengalah sajalah. Sooo, even the wall has very-very-literally pale green color, I still love my new room. OK, let's make it a comfy nest!
What will you need:
1. Selotip hitam (I used Vinyl Electrical Tape, because it's very cheap, IDR 1K for 1 roll, LOL!)
2. Gunting atau Cutter
3. Penggaris
First time first!
Bayangkan pola cityline yang kamu inginkan. Banyak sekali referensi siluet kota di internet, go to Pinterest for more interesting references. Aku memilih pola New York abal-abal karena gampang ditiru dan nggak akan ngabisin banyak selotip. Btw, nggak usah di sketch dulu di tembok, langsung aja biar cepet!
Setelah itu, mulai tempelkan selotip di tembok. Nah ini nih gunanya penggaris. Since aku adalah orang yang gemes banget kalo ngeliat garis yang nggak lurus dan presisi, maka aku pake penggaris untuk membantu membuat pola-pola outline kotanya. Bayangkan bangunan yang saling tumpuk menumpuk ketika dilihat dari tampak depan dan kreasikan selotipmu di atas tembok yang polosan itu heuheuheu.
And voilaaaa .........
![]() |
| Nggak mirip New York sama sekali, LOL! Ngasal sih ini hehehe |
BONUS NARSIS DI POSTINGAN INI!!! :3
![]() |
| Easy, rite? |
I only spent about 5-6 rolls of tape. FYI karena ini selotip kabel jadi dia ngga nempel banget gitu di tembok, jadi someday mau dicopot juga nggak bakalan bekas & nggak bakalan diomelin Ibu Kos heuheuheu.
Well, it's so easy, cheap, and cool. Happy Crafting!
Selamat menuju weekend!
XOXO
![]() |
| Salah seorang murid SD Inpres Waling Spaciby di Banda Besar, Maluku Tengah (Credit by Aditya Rimba) |
Tulisan ini pernah diikutkan dalam program seleksi #MenyapaNegeriku
PENDAPAT DAN IMPIANMU TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA
Saya
dibesarkan atas pemahaman betapa pentingnya mengenyam pendidikan formal. Saya
dididik atas pengertian bahwa pendidikan yang baik akan menjamin sebuah
kehidupan yang berarti; lebih dari sekedar orientasi materi. Dua puluh satu
tahun makan bangku pendidikan formal lantas tak menjadikan saya membuka mata
tentang apa itu pendidikan. Maka seharusnya pendidikan bukan cuma sekedar hitungan matematika
selama dua jam sehari, atau tentang ujian nasional enam mata pelajaran dalam
tiga hari. Saya bersyukur dikenalkan dengan Kelas Inspirasi yang menyadarkan
bahwa ilmu tak melulu soal duduk di bangku hingga pukul satu. Tak juga tentang
berpuluh-puluh buku pelajaran satu semester yang seringnya terasa berat untuk
dipanggul. Tidak, saya tidak sedang mengintimidasi soal sistem pendidikan. Cuma
seringnya kita lupa, sistem itu cuma sebatas teknis. Selebihnya itu tentang
mendidik dengan hati; tentang guru-guru yang rela bangun pagi untuk berbagi.
Mungkin jika pendidikan hanya sebatas soal kejar-mengejar materi, sekarang saya
tak pernah ingat alasan Mr. Sartono membubarkan PNI. Ya, karena guru saya—Pak
Kies—yang dengan semangatnya memeragakan tokoh demi tokoh perjuangan Indonesia
maka saya jarang lupa tentang sejarah hingga sekarang.
Indonesia
butuh hati yang diletakkan pada tiap-tiap pengajar, butuh lebih banyak Pak Kies;
yang tidak hanya menjelaskan panjang lebar tentang sin cos tan, atau hanya
mengantarkan untuk mendapatkan selembar kertas berlabel ‘ijazah’ lalu kemudian
lupa gunanya apa. Karena saya rasa pendidikan itu bukan cuma perkara ilmu
formal yang wajib dihabiskan dalam dua belas tahun; jika beruntung ditambah
empat tahun di perguruan yang lebih tinggi. Ini soal mencerdaskan bangsa,
memberikan inspirasi, menanamkan sopan santun, membangun kepercayaan diri,
membentuk pola pikir nasionalis, menumbuhkan bibit-bibit mandiri, dan menjadikan
masyarakat Indonesia masyarakat yang madani. Yang semuanya saya percayai dapat
dipupuk sejak dini melalui cara yang efektif; melalui pendidikan formal dengan
cara yang lebih manusiawi. Saya percaya membiasakan seorang anak memiliki
integritas dalam dirinya akan mencetak satu bibit pemimpin bangsa.
Saya bermimpi tentang sekolah yang menyenangkan, tanpa tekanan takut hukuman karena nilai jelek atau tak mengerjakan PR. Saya bermimpi tentang pendidikan yang jujur dan sederhana; tanpa perlu khawatir soal tidak naik kelas atau manipulasi nilai hanya demi kepuasan pada rapor tanpa angka merah. Saya bermimpi tentang pendidikan yang membangun bangsa dan negeri, bukan embel-embel ngeri soal peluang kerja yang semakin sempit. Saya bermimpi tentang pendidikan yang menyeluruh dirasakan secara adil di seluruh pelosok negeri; berbagi cerita tentang hebatnya Alexander Agung bersama murid-murid daerah Anambas, bermain cerdas cermat bersama siswa Sumba Timur, atau belajar memaksimalkan fungsi internet pada teman-teman di wilayah terluar Indonesia. Serta bersama-sama menyamaratakan pemahaman di seluruh Indonesia betapa istimewanya menjadi siswa melalui pendidikan formal, yang tak hanya diajarkan teori tapi juga apa itu memanusiakan manusia.
Saya bermimpi tentang sekolah yang menyenangkan, tanpa tekanan takut hukuman karena nilai jelek atau tak mengerjakan PR. Saya bermimpi tentang pendidikan yang jujur dan sederhana; tanpa perlu khawatir soal tidak naik kelas atau manipulasi nilai hanya demi kepuasan pada rapor tanpa angka merah. Saya bermimpi tentang pendidikan yang membangun bangsa dan negeri, bukan embel-embel ngeri soal peluang kerja yang semakin sempit. Saya bermimpi tentang pendidikan yang menyeluruh dirasakan secara adil di seluruh pelosok negeri; berbagi cerita tentang hebatnya Alexander Agung bersama murid-murid daerah Anambas, bermain cerdas cermat bersama siswa Sumba Timur, atau belajar memaksimalkan fungsi internet pada teman-teman di wilayah terluar Indonesia. Serta bersama-sama menyamaratakan pemahaman di seluruh Indonesia betapa istimewanya menjadi siswa melalui pendidikan formal, yang tak hanya diajarkan teori tapi juga apa itu memanusiakan manusia.
Ditulis saat aku mainstream dan iseng banget ikutan apply #MenyapaNegeriku yang jelas sekali aku nggak mungkin lolos sih :))))) etapi pas buka-buka file lama dan nemu ini, setelah dibaca lagi kok menyentuh hati, jadi aku share :')
Eh, beneran menyentuh nggak sih? HAHAHAHA.
Thanks God it's Freeyeay!
Kali ini aku bakalan bikin DIY Vase yang super easy dan super murah karena bahan-bahannya hasil dari leles-leles di dapur wkwkwkwk. Kadang sampah nggak selalu sampah ya gengs. Btw, ini buatnya udah dari jaman baholaaaaa, sekita awal Februari tapi baru sempet di posting sekarang. Mungkin karena penyakit lamaku kambuh ya, bakalan males banget kalo gambar yang diambil nggak keliatan artsy sama sekali hiks. Jadi kalo postingan kali ini gambarnya welek polpolan plis jangan langsung dihapus dari blogroll ya blognya :'(
Oke, kalian bakal butuuuuhhh:
1. Kemasan plastik bekas (aku pake plastik bekas selai cokelat bermerk mor***)
2. Gold spray paint (I bought it on Artland Sutos)
3. Cat besi/kayu
4. Gunting
5. Selotip kertas
Caranya cukup mudah!
Pertama bersihkan kemasan plastik bekas dari labelnya. Banyak cara yang bisa kamu tiru di internet atau wikihow tapi if you ask me, aku menggunakan air panas untuk mengelupas labelnya. Caranya adalah didihkan air dan tunggu beberapa menit agar suhunya sedikit turun, lalu rendam botol di dalam air hangat selama satu jam. Setelah itu dijamin labelnya lebih mudah dikelupas.
Kedua, botol yang udah bersih dikeringkan. Setelah kering tuang cat hingga seperempat botol terisi. Tutup botol rapat lalu ratakan cat di seluruh bagian dalam botol dengan mengocoknya. Setelah rata, buka tutup botol dan keringkan botol selama satu hari atau sampai cat mengering dengan posisi terbalik sehingga catnya bisa jatuh. Hati-hati ya gengs jangan sampe catnya belepotan kemana-mana ahahaha. Pake alas koran kalo perlu biar nggak kotor.
Ketiga! Well kalo udah kering botolmu bakaln lucu banget karena udah punya warna di dalemnya. Move, lapisi luar botol dengan selotip kertas. Kenapa sih harus selotip kertas? Karena selotip kertas lebih mudah dipasang dan dilepas tanpa meninggalkan bekas kenangan. Buat pola sesukamu ya! Eits tapi inget, bagian yang terbuka adalah bagian yang nantinya akan terkena gold spray. Aku sendiri memilih untuk bikin pola yang teramat sederhana dan nggak niat yaitu stripe.
The last, semprot botol berbalut selotip kertas dengan gold spray, alasi dengan koran dan usahakan jangan main spray di tempat yang berangin karena ntar kamu yang bakalan kena spray wkwkwk. Semprot tipis-tipis hingga semua rata. Tunggu kering biar nggak belepotan kemana-mana. Setelah kering naaaaah baru kelupas selotip kertasnyaaa!
and voilaaaaaaaaa~~~
Not bad, huh?























