![]() |
| Thio dan Aku sedang bercerita soal pola hidup sehat di SD Negeri Waling Spanciby (Credit by Aditya Rimba) |
Hey, bukankah hari ini adalah Hari Pendidikan Nasional di Indonesia?
Mengingat tentang pendidikan nasional membawa pikiranku melayang ke hari-hari yang ku habiskan di Banda. Aku yang paling tidak bisa menghadapi anak-anak kecil, harus memasuki kelas-kelas sekolah dasar dan sekolah menengah di Banda untuk menyampaikan materi. Di tingkat kelas yang lebih rendah kami bercerita soal hidup sehat atau mengajari cara menanam bunga-bunga. Sedangkan di sekolah menengah, kami bercerita soal mimpi-mimpi; cita-cita anak pesisir setelah mereka menghabiskan bangku sekolahan. Baru saat itu aku sadar bahwa meski kami hidup dalam negara yang sama, tapi di antara pendidikan yang masing-masing kami terima ada sebuah celah besar. Banda dan kesederhanaannya, bagi mereka memberantas buta huruf sudah merupakan satu persoalan besar yang berhasil mereka selesaikan. Apalagi mengirimkan anak-anak mereka untuk mengenyam pendidikan tinggi di kota-kota besar, itu adalah prestasi yang luar biasa.
Akhir tahun yang lalu, kami mengikuti kompetisi video Ikon Pendidikan Profesi Guru yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Kami memutuskan untuk mengangkat cerita tentang pengalaman kami mengajar di Banda Neira. Andri bertugas mengumpulkan footage yang kami perlukan, Adit mengedit video, dan aku menulis script sekaligus membacakan narasi untuk video ini. Meski pengerjaannya dikejar deadline—karena aku harus mengemasi barang-barang yang harus ku bawa ke India—sungguh kami tidak pernah menyangka bahwa video kami terpilih menjadi Juara Kedua dalam kompetisi video ini.
Videonya bisa kamu tonton disini
Laut, adalah semesta
yang membawa kehidupan tetap berlayar
Langit, adalah keteduhan
dan segala hal yang mengijinkan
Di tanah ini
Orang–orang penunggang ombak bertaruh besar,
untuk masa depan yang lebih menjanjikan
Maka bagi mereka
Tak ada yang lebih membanggakan
Dari jiwa-jiwa tak kenal lelah
yang haus akan pengetahuan
Tak pernah ada lagi
Ketulusan yang lebih berarti
Selain guru-guru yang rela bangun lebih pagi
Maka untuk setiap asa yang dibagi
Dan kisah-kisah heroik negeri sendiri
Dengan Hatta dan Sjahrir yang diasingkan di tanah ini
Harapan-harapan itu ditiupkan bersama angin
Disampaikan oleh guru-guru yang datang untuk mengabdi
Mengisi ketidaktahuan di tengah redupnya pesisir
Karena yang selalu kami percaya
Yang selalu kami tanam
Mendidik adalah berbagi
Selamat Hari Pendidikan Nasional!
Untuk anak-anak Banda, teruslah belajar
![]() |
| Salah seorang murid SD Inpres Waling Spaciby di Banda Besar, Maluku Tengah (Credit by Aditya Rimba) |
Tulisan ini pernah diikutkan dalam program seleksi #MenyapaNegeriku
PENDAPAT DAN IMPIANMU TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA
Saya
dibesarkan atas pemahaman betapa pentingnya mengenyam pendidikan formal. Saya
dididik atas pengertian bahwa pendidikan yang baik akan menjamin sebuah
kehidupan yang berarti; lebih dari sekedar orientasi materi. Dua puluh satu
tahun makan bangku pendidikan formal lantas tak menjadikan saya membuka mata
tentang apa itu pendidikan. Maka seharusnya pendidikan bukan cuma sekedar hitungan matematika
selama dua jam sehari, atau tentang ujian nasional enam mata pelajaran dalam
tiga hari. Saya bersyukur dikenalkan dengan Kelas Inspirasi yang menyadarkan
bahwa ilmu tak melulu soal duduk di bangku hingga pukul satu. Tak juga tentang
berpuluh-puluh buku pelajaran satu semester yang seringnya terasa berat untuk
dipanggul. Tidak, saya tidak sedang mengintimidasi soal sistem pendidikan. Cuma
seringnya kita lupa, sistem itu cuma sebatas teknis. Selebihnya itu tentang
mendidik dengan hati; tentang guru-guru yang rela bangun pagi untuk berbagi.
Mungkin jika pendidikan hanya sebatas soal kejar-mengejar materi, sekarang saya
tak pernah ingat alasan Mr. Sartono membubarkan PNI. Ya, karena guru saya—Pak
Kies—yang dengan semangatnya memeragakan tokoh demi tokoh perjuangan Indonesia
maka saya jarang lupa tentang sejarah hingga sekarang.
Indonesia
butuh hati yang diletakkan pada tiap-tiap pengajar, butuh lebih banyak Pak Kies;
yang tidak hanya menjelaskan panjang lebar tentang sin cos tan, atau hanya
mengantarkan untuk mendapatkan selembar kertas berlabel ‘ijazah’ lalu kemudian
lupa gunanya apa. Karena saya rasa pendidikan itu bukan cuma perkara ilmu
formal yang wajib dihabiskan dalam dua belas tahun; jika beruntung ditambah
empat tahun di perguruan yang lebih tinggi. Ini soal mencerdaskan bangsa,
memberikan inspirasi, menanamkan sopan santun, membangun kepercayaan diri,
membentuk pola pikir nasionalis, menumbuhkan bibit-bibit mandiri, dan menjadikan
masyarakat Indonesia masyarakat yang madani. Yang semuanya saya percayai dapat
dipupuk sejak dini melalui cara yang efektif; melalui pendidikan formal dengan
cara yang lebih manusiawi. Saya percaya membiasakan seorang anak memiliki
integritas dalam dirinya akan mencetak satu bibit pemimpin bangsa.
Saya bermimpi tentang sekolah yang menyenangkan, tanpa tekanan takut hukuman karena nilai jelek atau tak mengerjakan PR. Saya bermimpi tentang pendidikan yang jujur dan sederhana; tanpa perlu khawatir soal tidak naik kelas atau manipulasi nilai hanya demi kepuasan pada rapor tanpa angka merah. Saya bermimpi tentang pendidikan yang membangun bangsa dan negeri, bukan embel-embel ngeri soal peluang kerja yang semakin sempit. Saya bermimpi tentang pendidikan yang menyeluruh dirasakan secara adil di seluruh pelosok negeri; berbagi cerita tentang hebatnya Alexander Agung bersama murid-murid daerah Anambas, bermain cerdas cermat bersama siswa Sumba Timur, atau belajar memaksimalkan fungsi internet pada teman-teman di wilayah terluar Indonesia. Serta bersama-sama menyamaratakan pemahaman di seluruh Indonesia betapa istimewanya menjadi siswa melalui pendidikan formal, yang tak hanya diajarkan teori tapi juga apa itu memanusiakan manusia.
Saya bermimpi tentang sekolah yang menyenangkan, tanpa tekanan takut hukuman karena nilai jelek atau tak mengerjakan PR. Saya bermimpi tentang pendidikan yang jujur dan sederhana; tanpa perlu khawatir soal tidak naik kelas atau manipulasi nilai hanya demi kepuasan pada rapor tanpa angka merah. Saya bermimpi tentang pendidikan yang membangun bangsa dan negeri, bukan embel-embel ngeri soal peluang kerja yang semakin sempit. Saya bermimpi tentang pendidikan yang menyeluruh dirasakan secara adil di seluruh pelosok negeri; berbagi cerita tentang hebatnya Alexander Agung bersama murid-murid daerah Anambas, bermain cerdas cermat bersama siswa Sumba Timur, atau belajar memaksimalkan fungsi internet pada teman-teman di wilayah terluar Indonesia. Serta bersama-sama menyamaratakan pemahaman di seluruh Indonesia betapa istimewanya menjadi siswa melalui pendidikan formal, yang tak hanya diajarkan teori tapi juga apa itu memanusiakan manusia.
Ditulis saat aku mainstream dan iseng banget ikutan apply #MenyapaNegeriku yang jelas sekali aku nggak mungkin lolos sih :))))) etapi pas buka-buka file lama dan nemu ini, setelah dibaca lagi kok menyentuh hati, jadi aku share :')
Eh, beneran menyentuh nggak sih? HAHAHAHA.
*Alert: postingan ini mengandung curhat berlebihan tentang satu tahun lepas dari dunia pendidikan*
The first thing that cross in my mind is ‘Thanks God, I’m survived!’
Pernah nggak sih ngerasa kalo kamu adalah the most dumbass person yang nggak bisa dikasih tanggung jawab apapun? Atau ngerasa super insecure karena kamu nggak punya keahlian apa-apa dibanding temenmu yang lainnya? That kind of feeling hits me a year ago. Nggak cuma ketika lulus dari kuliah diploma aja sih sebenernya, pertanyaan semacam ‘abis ini mau ngapain?’ atau ‘plan kedepannya gimana?’ udah mulai menghantu semenjak masuk di awal perkuliahan semester satu. Why? Because I’m the one who good in theorictical but less in practical sedari dulu. Begitu mudahnya cari nilai A tapi nggak bisa diajakin kerjasama ngerjain proyekan itu sesuatu yang ‘yaelah moment’ banget ketika kamu memilih belajar di sekolah vokasi.
Dan ketakutan itu semakin menyata ketika sukses besar melepas gelar mahasiswa diploma tanggal 21 Spetember tahun 2014. Bahagia? Iya. Terharu? Iya. But mostly the euforia can’t hide all the things that I’m afraid of. Apalagi ngeliat temen-temen yang udah pada diterima kerja duluan. Rasanya antara turut berbahagia dan sedih nyampur jadi satu. Jadi fresh graduate itu nggak gampang, apalagi yang belum punya pengalaman kerja kayak aku.
Part yang lebih bikin sedih adalah ketika justru diri kamu sendiri yang nggak yakin sama kemampuanmu sendiri. It’s the most pathetic scene tho. It happens to me. Lemme tell you how insecure I am. Jadi orang extrovert yang saat kuliah aktif di organisasi, aktif di lingkungan pertemanan, dilabeli ‘hits’ cuma karena kamu kenal si ini dan si itu yang juga ‘hits’, dan terkategori sebagai orang yang vocal justru seringnya bikin kamu malah tertekan. I REALLY MEAN IT! Saat kamu keluar dari kursi aman bernama ‘pendidikan’ kamu seperti memasuki tahapan baru yang dimulai dari nol dan orang-orang akan mulai menyorot ‘what is she gonna do now?’ seperti biasanya. Yep! Scene ini kayaknya cuma ada di otakmu tapi kamu bener-bener yakin bahwa yes, people trying to judge you. And it’s currently the most hard part of my life. Prespektif ini sebenernya bisa memunculkan dua kemungkinan aksi yang bakal dijalanin. Satu, terjebak di ke-insecurities-an dan hidup dalam berandai-andai. Dua, you gonna break a leg and show to them that you can do something.
Well, I choose the second option. *dengan terseok-seok dan penuh drama sok tegar*
Being a fresh graduate make you in the bottom list of job hunter (bener atau enggak, sayangnya itu yang tertancap kuat-kuat di otak). Segala macam broadcastan dan info soal job fair are totally a bullshit kalo menyadari bahwa kamu lulusan diploma Multimedia Broadcasting yang berharap punya posisi di industri kreatif, karena hampir sebagian besar perusahaan industri kreatif nggak akan cari karyawan lewat job fair. Dan aku pernah terjebak di keadaan mencari-pekerjaan-di-jobfair selama dua bulan lamanya, sebelum menyadari kalo it’s totally waste my time.
Sampe akhirnya aku berhenti di satu titik dan mencoba memahami situasi dengan membuka mata lebar-lebar tentang apa yang nyata sekarang. So being a freshgrad is not only a curse but also a blessing, karena sesungguhnya kamu bisa melakukan apa aja yang kamu inginkan (asalkan kamu berani, asalkan kupingmu nggak panas kena nyinyiran orang). It’s okay to slow down for a while and thinking what you gonna do. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat wishlist. Yap, a wishlist di akhir tahun 2014.
Here’s my wishlist (asli bukan resolusi!)
1. Tetep aktif di komunitas sosial
2. Ngerasain kerja di majalah
3. Bergabung dengan Jawa Pos Group
4. Lanjut sekolah lagi demi sarjana
5. Business trip to somewhere
6. Mencoba peruntungan mengejar dollar (?)
And guess what? Thanks God, I made it all!
Satu tahun rasanya waktu yang sangat sangat sangat cepat untuk merasakan semuanya sekalian. Diperbolehkan bergabung dengan PadMagz pada November 2014 sekaligus merasakan bussiness trip ke Lombok di April 2015 sungguh pengalaman yang nggak bisa disepelekan. Meski nyatanya PadMagz bukan majalah besar sekelas GoGirl! yang lama aku idamkan, tapi justru dari PadMagz aku dapet ilmu banyaaaaak banget soal majalah baik dari sisi redaksi maupun manajemen. Desember 2014, aku masih dikasih kesempatan untuk bergabung dengan salah satu komunitas sosial yang membantu rehabilitasi Gang Dolly. Selama di PadMagz aku juga mencoba peruntungan mengejar dollar (seperti yang selalu disarankan Mas Pandu) dengan cara freelance jual keahlian gambar abal-abal yang alhamdulillah hasilnya bisa dibuat beli senjata baru buat gambar. Kemudian pada Mei 2015, hasil dari bolak-balik kirim CV ke DBL Indonesia berbuah satu kursi di divisi Public Media Relation. Meski cuma empat bulan bergabung (yaelah chik, kayak anak magang) dan mau nggak mau dapet amanah megang DBL Surabaya, bisa dibilang that was the most both grateful and terrific part of 2015. Well, akhirnya aku merasakan gimana rasanya di kader ala ala Jawa Pos Group. Akhir Agustus 2015 aku diterima sebagai salah satu mahasiswa Program Transfer Sarjana Ilmu Komunikasi UNS *speechless* *sujud syukur* *2015 most galau moment* yang berhasil bikin aku bolak balik Surabaya-Solo tiga kali dalam dua minggu.
Bagian terbaik adalah bertemu dengan banyak orang yang hingga detik ini masih ngasih perubahan yang positif di hidupku. Yang ngajarin banyak hal yang sebelumnya nggak pernah aku tahu. Yang menawarkan kepercayaan ke aku untuk melakukan jobdes penting. Yang membuka mata kalo dunia ini teramat luas, teramat banyak yang bisa dipelajari, dan masing-masing dari kita berhak untuk terus belajar dan mengembangkan diri bahkan di umur yang nggak muda lagi.
Satu hal yang aku sadari saat ini, semua hal ini nggak pernah bisa dibilang ‘keren’ atau ‘sukses’ atau ‘wow’ kalo dibandingin dengan pencapaian-pencapaian temen-temen kuliah yang notabene udah kerja di perusahaan besar dan punya penghasilan dua sampe tiga kali lebih banyak dari aku. But at least I do it with my own way. Ignoring what society says and keep looking forward may be the most difficult part. Setidaknya meskipun nggak keren, hal-hal tersebut tetep ngasih pembelajaran dan pendewasaan sampe sekarang aku jadi the 2016 version of me. Bolak-balik merutuki diri sendiri karena nggak kunjung dapet pekerjaan yang keren atau merasa nggak bisa ngelakuin hal apapun adalah tindakan terbodoh sedunia akhirat yang aku lakukan. Nggak ada yang bisa mengunderestimate seseorang; tidak dirinya sendiri, tidak juga orang lain.
Selain itu belajar ikhlas adalah satu hal yang aku syukuri bisa aku diskusikan sama Mas Pandu yang selalu bilang ‘dilakoni wae’ di saat aku udah mencak-mencak senewen ketika aku nggak bisa dapet apa yang aku inginkan. Kalimat ‘tersesat di jalan yang benar’ akhir-akhir ini juga terus menggantung di depan mata seperti semboyan yang akhirnya makin menyata. Mungkin aku nggak akan pernah punya 6 wishlist absurd yang sekarang sangat aku syukuri kalo dulu aku ngotot jadi dokter gigi atau akhirnya nyerah kuliah MMB di tengah jalan. Hal-hal yang dulu rasanya berantakan, dikerjakan terpaksa, atau nggak kita sukai mungkin akhirnya akan menuntun kita ke jalan sesat yang malah lebih indah dari yang kita cita-citakan.
Well, 2015 merupakan tahun penuh krisis yang akhirnya malah paling membekas. Semacam kenangan, yang luka malah yang makin kerasa *tsah*. Banyak hal yang menekan namun justru pada akhirnya paling mendewasakan. Sesungguhnya dalam hidup ini, ada hal-hal yang perlu kita lakukan dan perjuangkan sebaik-baiknya. Tahun 2015 ala aku menarik kesimpulan bahwa all we have to do is believe that possibility is infinity. Nggak ada hal terbaik yang bisa dilakukan selain terus belajar, berusaha, dan bersyukur.
Cerita ini ditulis sebagai refleksi dan berbagi pengalaman selama tahun 2015
Hi Adup, pretty much galau feeling when I reopen the old files of college. Rasanya kayak setengah hati pingin balik ke masa lalu. Hahaha. But then I realize that college is one of the most favorite part in my life, of course. I collect several photo that may represent what we've done through 3 years. Wishing that you still remember that.
Sering ketawa-ketawa sendiri rasanya kalo inget angkatan kita yang, hmmm let say--half stranger. Yang beda dari mahasiswa kebanyakan pada waktu itu. Duh, aku sukaaaa banget kalo kita nyebut diri kita beda. In fact emang kita beda. Beda banget! Selalu ada rasa bahagia yang menilisik di hati setiap inget betapa frontalnya kita buat bahagia dan bebas--dan juga keluar dari jalur tradisi, semenjak kita berdiri sendiri. Mulai dari seberapa ngototnya kita pingin punya dresscode beragam pas Makrab pertama kita, oke yang itu emang aku sama Brian yang kebacut ngotot sih hahaha. Lalu mulai sibuk dengan pembentukan HIMA blablabla, well sometimes aku kangen jadi mahasiswa ingusan semester satu atau dua.
Kita punya banyak cerita di pembentukan HIMA. Mulai dari nangis sampe ketawa-ketiwi kita pernah ngerasain cuma karena merjuangin sesuatu yang sekarang kita sebut HIMA MMB. Bahkan Adhoc vs Mahasiswa MMB ever exist kalo kita inget-inget soal forum logo. OMG! We are growing too fast hahaha. Ngonsep OPP, melek tiap malem, debat masalah grand design, aku bahkan nggak percaya aku pernah ngelakuin itu kalo inget sekarang jam 10an rasanya aku udah tidur pules hahaha. Masih inget waktu kita jadi TSKnya Adit? Ya ampuuuunn! Lucu sekali waktu itu. Bikin kipas-kipasan dari kepala WPAP Adit, bikin sticker, banner. Pertama kali kita pesta demokrasi, dan hal yang kita pinginin: kampanye sekeren-kerennya, gaul, nggak kaku, nggak mainstream, dan bahagia. Lalu endingnya Noven yang menang dan kita serius banget pingin bikin sertijab paling nggak biasa di PENS. Undangan pop-up buat Depres yang gambarnya langsung dari Kahima terpilih hahaha, saking bahagianya kita sampe undangan aja nggak mau mainstream. Lalu desain stage Metamorphosis of HIMA MMB, I'm totally in love with that idea! Bahkan sebelum acara jalan, kita bingung banget cari tempat karena mendadak lapangan basket dan hall D4 dilarang. Itu malam dimana kita berasa lahir, ngebuktiin kalo kita orang-orang kreatif yang bisa diajak mikir konstruktif. Atau inget proker absurd kita soal menghitamkan PENS? Aku bahkan pingin ketawa kalo inget-inget itu. Nyinyiran banyak orang malah bikin kita geregetan pingin setor muka di depan mereka. Mulai dari nyiyiran soal balon waktu wisuda, soal bikin acara di lapangan merah, soal bikin flashmob pas PENS Cup, ketetapan yang dicorat-coret, nggak boleh bikin acara karena nggak punya HIMA, rebutan warna item sama BEM. We're really really really a trouble maker! And proud of it. Lalu apa kabar MMBFest? Melek malem, melek pagi, nangis-nangis. Rasanya nyesek, nyesek banget. Tapi dari situ rasanya jadi tau, tau mana yang mati-matian selalu ada disebelahmu, mana yang enggak. Duuuuh, jadi melow. Hahaha. Kongkow bareng, curhat-curhat tengah malem, ngerjain tugas bareng, proyekan bareng, ngonsep kaderisasi bareng, galau bareng, nobar kampung makicu bareng, ngerjain TA bareng. Ya ampun sudah khatam semuanyaaaa!
The best thing having friend like you is we just look alike. Kita satu selera: sepatu, parka, tas, fashion, desain, curhatan, pendapat, dan blablabla. Inget nggak? Dengan nggak sengaja kita pernah ngeshare berita yang sama, Mashup 2014 Best Song, pada waktu yang sama. Atau when you drew a girl with flower crown, I did it too. Atau soal prinsip a woman has to be awesome and independent. Oh itu konyol, but we just connected. Hahaha. Seneng bisa kenal orang kayak kamu, rasanya nggak usah susah-susah ngomong tuh kamu udah paham banget apa maksudku.
Well, Happy (belated) Birthday Adup!
Tetep awesome di perantauan yah--I know you're always awesome.
Sukses untuk karirnya, untuk cita-citanya, untuk kehidupan yang lebih baik.
Didekatkan jodohnya, dilancarkan rejekinya, dikuatkan iman dan taqwanya.
Semoga segera sampai di titik itu: solo exhibition!
Amin, amin, amin.
Pada akhirnya nanti kita akan saling menunggu, untuk cerita ini dan itu. Tentang definisi bahagia yang sudah kita tulis jauh-jauh hari, mungkin mulai dari hari ini, atau kemarin. Kita sama-sama percaya kalau mimpi, angan, atau keinginan hari ini adalah gambaran masa depan yang kita yakini hari ini. Dengan doa-doa yang setiap harinya meluncur dari orang-orang yang sama-sama peduli. Bismillah. Selalu ada happy ending untuk orang-orang yang berjuang tidak setengah hati. Good luck, Adup! Good luck for us!

Aku mungkin bukan seorang penggemar cerita politik negeri
sendiri. Bukan juga tukang gosip pemerintahan yang sering menyeletuk lewat
media sosial. Sejatinya aku tidak terlalu tertarik dengan hal-hal demikian. Hanya
saja keadaan berita di televisi sedang menarik untuk disimak akhir-akhir ini.
Masih ingat tentang calon tunggal Kapolri yang beritanya
begitu saja menguap karena media sibuk memburu balada tangkap menangkap POLRI –
KPK? Atau harga BBM subsidi yang melambung populer lengkap dengan embel-embel
salam dua ribu, lalu turun beberapa ratus rupiah dan kembali mengalami kenaikan
beberapa ratus rupiah pula tanpa pemberitaan seheboh sebelumnya? Bagaimana
dengan pergerakan aksi mahasiswa seluruh Indonesia yang ramai di media sosial
tapi tak juga punya tempat di televisi nasional? Lalu keluh kesah para
sosialita karena rupiah berada di nilai tiga belas ribu rupiah? Pernah dengar
mengenai penandatanganan Perpres oleh Bapak Presiden yang tak sempat beliau baca
isinya? Atau rencana penaikan tarif dasar listrik di beberapa daerah? Ah,
mungkin tak dengar karena rakyat Indonesia sedang sibuk merindukan Olga dan
Mpok Nori yang telah berpulang.
Lalu, apa?
Sebesar apa cinta kita akan Indonesia untuk bisa memahami
kondisi negeri sendiri?
Cukup banyak kah modal nasionalisme dalam dada untuk
mengulur satu persatu masalah yang sedang terjadi?
Sebanyak apakah tekad untuk 'membentuk suatu pemerintah
negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah
darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan
bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia' agar tidak sekedar menjadi
bacaan wajib di hari Senin pukul delapan pagi?
Lalu, bagaimana?
Menuntut pemerintah? Jangan. Cukup. Nanti hanya akan jadi
wacana. Lagi pula apa tidak bosan mengadu ke pemerintah?
Menghujat Bapak Presiden kita sendiri di media sosial? Coba
terangkan lagi apa fungsinya.
Menyalahkan saudara setanah air karena memilih Presiden dari
partai moncong putih? Kalau pun mereka mengaku salah dan menyesal, apa kemudian
masalahnya tuntas bersih?
Lebih baik menyalakan
lilin dari pada terus menerus merutuki kegelapan.
Merutuki kegelapan, itu yang sekarang sedang sebagian besar
dari kita lakukan. Coba ingat ada berapa juta kicauan menolak kenaikan BBM
bersubdi dari orang-orang yang sehari-harinya menggenggam smartphone dengan harga berdigit tak kurang dari tujuh. Atau
seruan-seruan menuntut pemerintah pro ‘rakyat kecil’ yang dari dulu sampai
sekarang selalu mengecil-kecilkan keadaan mereka sendiri padahal sesungguhnya mereka bisa bangkit. Ada juga updatean status
para pelaku konsumerisme yang biasanya hanya membaca berita separuh—atau mungkin
judulnya saja—soal rupiah melemah di tiga belas ribu rupiah, mereka anggap itu
petaka di hari-hari dimana Adidas sedang mengeluarkan koleksi terbarunya bersama
Pharrel Williams.
Bukankah sesungguhnya masalah-masalah itu bisa diselesaikan
dengan cara sederhana? Tidak sadarkah kita bahwa kita terlalu banyak
mengasihani diri kita sendiri? Mencap pribadi sebagai masyarakat negara ketiga
yang makin lama makin miskin karena pemerintahnya korupsi. Meratapi nasib
sebagai negara berkembang yang koneksi internetnya tak cukup sakti seperti di
luar negeri. Dan selalu mengharap uluran tangan pemerintahan atas label ‘rakyat
kecil’ yang kita bangga-banggakan sedari dulu hingga kini.
Kita menuntut pemerintah tidak korupsi, kolusi, nepotisme dan blablabla lainnya. Tapi kita juga masih tidak bisa mengantri
dengan tertib. Masih membuat SIM dengan jalur belakang. Menyerahkan sejumlah
rupiah pada Pak Polisi dijalan ketika kita kena tilang. Mencontek saat ujian
nasional. Masuk perguruan tinggi negeri paporit karena titipan. Membuang sampah
sembarangan. Merokok di tempat umum. Melawan arus lajur kendaraan yang telah
dibuat. Tidak mematuhi jam kerja. Apa bedanya kita dengan pemerintah yang seringkali kita hujat karena ketidakbecusan menyelenggarakan pemerintahan yang menjamin kesejahteraan?
Sebaik-baiknya
Bapak Presiden yang terpilih pun tidak akan bisa merubah Indonesia jika kita
sebagai rakyatnya tidak mau diubah. Jika kita tetap mempertahankan
kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan berulang-ulang tanpa ada keinginan
untuk memperbaiki, maka hal itu akan menahun menjadi sebuah
kebiasaan. Well let say, kita cenderung membenarkan sesuatu yang biasa, bukan membiasakan
sesuatu yang benar.
Bayangkan sisi positifnya,
Karena BBM bersubsidi mengalami kenaikan harga, banyak
masyarakat yang memilih untuk menggunakan kendaraan umum, volume kendaraan
pribadi menurun, permintaan akan bahan bakar menurun, polusi pun menurun.
Karena nilai rupiah berada di tiga belas ribu rupiah, maka
banyak masyarakat yang mulai menggunakan barang-barang produksi dalam negeri,
UKM jadi berkembang karena banyaknya permintaan pasar, masuknya barang impor
bisa ditekan, gaya hidup konsumerisme juga mulai bisa dihilangkan.
Masalah yang sama, hanya saja dihadapi dengan penyikapan
yang berbeda. Mungkin tidak sesederhana itu penyelesaiannya ketika di lapangan,
tapi bukankah itu sudah satu langkah nyata untuk Indonesia lebih baik? Bagaimana, setuju untuk saling mengingatkan dalam kebaikan?
Jadi, sudah sejauh apa kamu menolong negerimu dirimu sendiri?
Catatan ini ditulis untuk #SisaSelasa dengan tema sudah sejauh apa, tulisan yang juga menampar penulisnya akan pertanyaan 'apa yang sudah ia berikan pada negaranya'
Dear, Mbak Nita (another Mbak Hana in life)
Ketika detik ini menggantung, kamu masih berusaha untuk jadi seseorang? Masih berusaha cari-cari jati diri yang hilang? Masih nggak tau apa yang kamu inginkan? Atau masih berusaha mempertahankan harapan-harapan yg bagimu semuanya bisa dilambungkan dengan mudah?
Hidup ini indah, Beib. Cuma kamu yang bisa ngomong kayak gitu meski tangis udah nggak bisa lagi dibendung. Kamu masih bisa aja cekikikan hahaha hihihi, pas yang lain rasanya udah mau nyerah. Selalu aja ada 'ikhlas' yang kamu imani dan amini dalam doa serta pengharapan yg diulang-ulang sendiri. Bagaimana bisa kamu tetep pasang wajah bahagia saat hatimu sudah luka-luka? Ah, kamu emang paling pintar main sandiwara.
Kamu perempuan paling juara. Sudah kayak emak-emak yang bisanya mengelus dada sembari berdoa ketika dirinya teraniaya. Kamu yang paling berani, berkorban ini itu seperti patriot sejati, meski diam-diam mungkin kamu lebih sering menangis. Kamu selalu bisa dibilang tangguh. Melakukan semuanya di atas kata indepensi, antara bisa sendiri atau nggak mau ngerepotin orang lain. Kamu orang egois, yang cuma bisa menyodorkan kebahagian tanpa embel-embel kemungkinan sakit hati. Kalo sedih pasti kamu ngadunya cuma sama Tuhan, di malam-malam larut ketika orang memilih tidur pulas, malammu malah selalu dipenuhi dengan renungan. Lagi-lagi kamu sendiri.
Bukannya Jessie J bilang kalo 'it's okay not to be okay', tapi sepertinya kesedihan sudah kamu buang jauh-jauh entah dimana. Mungkin di kamusmu alpha kata derita, adanya pembelajaran yg tak selalu manis dirasa. Ih, kamu terbuat dari apa sih? Bukankah kita manusia sama rata? Atau waktu pembagian hati, kamu memilih memiliki yg paling tabah sendiri? Curang deh kamu, Mbak Nit.
Dimana pun kamu membaca ini mungkin kamu akan ketawa geli melihat ada satu biji manusia yang begitu iri melihat ke-unbreakable-an mu. Bukannya ingin menandingi, malah ingin memaki ketabahan yg terlalu hakiki. Bukankah halal saja menangis di pundak orang lain? Atau sekali saja meledak-ledak karena sabar sudah terlalu sepele? Tapi kamu lebih memilih jadi Mbak Hana yang cuma ada di tipi. Sekali lagi, cuma ada di tipi.
Jadi sudah sampai mana kamu sekarang?
Semoga beberapa hari lalu menginjak angka 22 tak menjadikanmu semakin jadi kayak Mbak Hana yang tangguh--atau mati rasa? Mungkin ulang tahun cuma pengingat yg di ulang-ulang kalo kita bertambah tua, bertambah bijak, tapi nggak harus selamanya sok kuat. Kamu penanda kalo masih aja ada orang macam Mbak Hana di kehidupan, selalu saja bikin aku senewen sekaligus ketawa. Mungkin bagimu F aksi akan selalu sama dengan F reaksi, ya? Bagimu, diluar yang kita tahu mungkin banyak doa meluncur tak sengaja, banyak amin di ujung pengharapan, dan banyak tangan yg sembunyi-sembunyi membantu. Sebagai balasan atas doa, amin, dan tangan kita di masa lalu. Kamu adalah alasan untuk selalu menertawakan diri sendiri, ketika rasanya pingin nangis cuma gegara masalah secuil.
Selamat ulang tahun ya, Mbak Nit. Tugasku cuma sebatas mengucap amin atas apa yang selama ini kamu usaha-doa-ikhtiarkan. Selebihnya sebagai penggembira kalo kamu berhasil, atau yang siap kasi pukpuk gratis kalo kamu lagi nangis meringis, itu pun kalo kamu cukup bisa mengabaikan gengsi mengadu ke orang lain. Sukses untuk cita dan cinta. Aminaminamin.
Ratusan kata ini bukan prosa, puisi, atau karangan. Cuma sekedar ucapan yang diselingi sindiran, nyinyir memang, tapi toh sempat membuatmu tertawa. Cuma ngingetin, Mbak Hana cuma eksis di tipi, jangan kamu mengadu peran di sini. Sekali-kali boleh lah berdamai dengan sakit hatimu sendiri. Happy (belated) Birthday. Have a blessed year ya, Mbak Nita ♡ ({}) *smooch*
Surabaya, 25 November 2014
Yang masih saja belum bisa memahami ketabahanmu,
Uchiks
Yang masih saja belum bisa memahami ketabahanmu,
Uchiks
![]() |
| Foto ngepet dari pesbuknya Mbak Nita |
Tanggal tua gini pasti rawan-rawannya paketan internet di smartphone kamu jadi ghaib alias antara ada dan tiada, plus harap-harap cemas tetiba paketan abis dan nyedot pulsa reguler. Bahkan nggak jarang sekitar tanggal 20an paketan internet kamu udah abisbisbis dan nggak bisa diharepin. Kalo udah gini, smartphone kamu berasa raga tanpa jiwa, nggak ada gunanya selain cuma buat mainan onet, 2048, atau sekedar dengerin lagu galau di music player. Beberapa orang yang banyak duit memilih buat beli paketan lagi, sebagian beli paketan harian yang kalo di itung-itung banyak ruginya, dan paling banyak memilih tetep sabar jadi fakir wifi dan menabahkan diri buat beli paketan bulan depan.
Well, that's life ! Aku paham banget gimana rasanya akhir bulan tanpa internet, apalagi buat beberapa orang yang nggak bisa lepas dari social media. Yang biasanya bangun tidur langsung ngecekin notif sekarang rasanya hampa kalo paketan internet abis. Apalagi yang jomblo, notif aja nggak ada, apalagi sms 'selamat pagi' nggak mungkin banget tetiba nyasar di henpon kamu.
Salah satu cara untuk mengatasinya adalah : jadikan lepi alias laptop kamu sebagai tethering wifi ! Kamu nggak akan kowa kowo lagi dirumah kalo paketan internet kamu abis. Jadi paling enggak modem kamu bisa berguna buat dibagi-bagi di henpon, karena sometimes beberapa aplikasi smartphone itu nggak bisa kamu dapetin di desktop. Dan biasanya kita juga nggak nyaman untuk men-campuraduk-kan aplikasi henpon buat dijalanin di desktop, kecuali kalo kamu punya emulator hahaha. So, here we go, mari kita coba.
Cara yang paling simple buat bikin lepi sebagai tethering wifi adalah dengan download software mHotspot yag alhamdulillah wasyukurillah free, coba klik disini buat download. Sebenernya bisa banget tanpa software cuma caranya terbilang ribet, apalagi buat orang-orang yang nggak seberapa doyan ngeuprek IT gitu, maklum ya soalnya harus lewat command prompt *halah opo maneh iku*.
Fitur yang ditawarkan mHotspot mayan kece loh, diantaranya :
1. Bisa dipake konek up to 10 perangkat
2. Bisa ngatur nama hotspot sama password sendiri, jadi hotspotnya bisa private
3. Aplikasinya kecil, cuma sekitar 400KB aja
4. Bisa lihat detail perangkat yang konek
5. Bisa ngatur berapa jumlah perangkat maksimal yang bisa dikonekin
Nah, asik kaaaaann ! Oke sekarang coba download dulu softwarenya. Setelah itu langsung install softwarenya di lepi kamu. And voilaaaaaa ..... bakal muncul tampilan mHotspot kayak gambar dibawah ini. Nah bisa langsung diatur nama hotspot, password, sumber internet, sama jumlah maksimal klien yang bisa konek. Setelah itu udah langsung Start Hotspot.
Kemudian cek smartphone kamu, coba scan hotspotnya, kalo berhasil ke detect akan muncul hotspot dari lepi kamu. Langsung cus connect, lalu coba buka browser untuk tes koneksi, kalo bisa nyambung berarti kita udah berhasil bikin lepi kita jadi tethering wifi. Syelamaaaaaaatt !!!
Pas kemaren nyobain, ternyata aku nemuin masalah, mungkin manteman blogger bakal nemuin masalah ini juga, jadi sekalian aku kasih tau cara nyelesaiinnya ya. Masalahnya adalah perankat kamu bisa konek ke hotspot tapi ternyata nggak bisa nyambung ke internetnya. Nah, gini solusinya ...
1. Buka Network and Sharing Center di Control Panel.
2. Pilih network yang kamu gunakan, punyaku network yang bernama hello uchik ! Klik di bagian connection yang ditunjukkan oleh kursor di gambar berikut.
Well, that's life ! Aku paham banget gimana rasanya akhir bulan tanpa internet, apalagi buat beberapa orang yang nggak bisa lepas dari social media. Yang biasanya bangun tidur langsung ngecekin notif sekarang rasanya hampa kalo paketan internet abis. Apalagi yang jomblo, notif aja nggak ada, apalagi sms 'selamat pagi' nggak mungkin banget tetiba nyasar di henpon kamu.
Salah satu cara untuk mengatasinya adalah : jadikan lepi alias laptop kamu sebagai tethering wifi ! Kamu nggak akan kowa kowo lagi dirumah kalo paketan internet kamu abis. Jadi paling enggak modem kamu bisa berguna buat dibagi-bagi di henpon, karena sometimes beberapa aplikasi smartphone itu nggak bisa kamu dapetin di desktop. Dan biasanya kita juga nggak nyaman untuk men-campuraduk-kan aplikasi henpon buat dijalanin di desktop, kecuali kalo kamu punya emulator hahaha. So, here we go, mari kita coba.
Cara yang paling simple buat bikin lepi sebagai tethering wifi adalah dengan download software mHotspot yag alhamdulillah wasyukurillah free, coba klik disini buat download. Sebenernya bisa banget tanpa software cuma caranya terbilang ribet, apalagi buat orang-orang yang nggak seberapa doyan ngeuprek IT gitu, maklum ya soalnya harus lewat command prompt *halah opo maneh iku*.
Fitur yang ditawarkan mHotspot mayan kece loh, diantaranya :
1. Bisa dipake konek up to 10 perangkat
2. Bisa ngatur nama hotspot sama password sendiri, jadi hotspotnya bisa private
3. Aplikasinya kecil, cuma sekitar 400KB aja
4. Bisa lihat detail perangkat yang konek
5. Bisa ngatur berapa jumlah perangkat maksimal yang bisa dikonekin
Nah, asik kaaaaann ! Oke sekarang coba download dulu softwarenya. Setelah itu langsung install softwarenya di lepi kamu. And voilaaaaaa ..... bakal muncul tampilan mHotspot kayak gambar dibawah ini. Nah bisa langsung diatur nama hotspot, password, sumber internet, sama jumlah maksimal klien yang bisa konek. Setelah itu udah langsung Start Hotspot.
![]() |
| Tampilan mHotspot |
Kemudian cek smartphone kamu, coba scan hotspotnya, kalo berhasil ke detect akan muncul hotspot dari lepi kamu. Langsung cus connect, lalu coba buka browser untuk tes koneksi, kalo bisa nyambung berarti kita udah berhasil bikin lepi kita jadi tethering wifi. Syelamaaaaaaatt !!!
![]() |
| Hotspotnya ke detect :') |
Pas kemaren nyobain, ternyata aku nemuin masalah, mungkin manteman blogger bakal nemuin masalah ini juga, jadi sekalian aku kasih tau cara nyelesaiinnya ya. Masalahnya adalah perankat kamu bisa konek ke hotspot tapi ternyata nggak bisa nyambung ke internetnya. Nah, gini solusinya ...
1. Buka Network and Sharing Center di Control Panel.
2. Pilih network yang kamu gunakan, punyaku network yang bernama hello uchik ! Klik di bagian connection yang ditunjukkan oleh kursor di gambar berikut.
3. Klik properties untuk buka pilihannya.
4. Pilih menu Sharing, dan klik pilihan 'Allow other network users to connect through this computer's Internet connection'. Setelah itu pilih networking connectionnya, aku pake Wireless Network Connection 2, kamu samain pake itu juga. Klik OK kalo udah beres.
Nah, gampang banget kan bikin lepi jadi tethering hotspot. Jadi internetnya bisa dibagi-bagi, sekalian amal gitu maksudnya hehehe. Selamat mencoba, semoga sukses :D















































