Guys, I'm officially move to Solo!
And I told you that I decorate my room, right?
Baru work desk aja sih yang didekorasi, tapi nggak papa lah ya ada kemajuan dikit huahahaha. I found that hanging my post card collections from 'Hidup Mati di Tanah Sengketa Tambak Bayan' will make my work desk interesting. And yeah, it's work! I love how each of pictures designed, cause it's like talk to me. My fave postcard, yang gambarnya 'drumulen' hahaha. Pojok kanan atas, iya itu namanya 'drumulen' kalo di Surabaya. Eh drumulen atau swing apa gitu ya. Gatau lupa deh hahaha. Pokoknya ngingetin aku sama jaman sekolah dasar, betapa antusiasnya aku untuk pergi ke Taman Remaja Surabaya dan rela antri cuma demi wahana ini :)
Yes, it's been 2 months I moved here to continue my study in communication major, Universitas Sebelas Maret Surakarta. And I got some hangover here, reminding the city is not apa-aja-ada like Surabaya. I'm starting to lose my job, my old frined, my organization, my community, my daily activity cause everything's start changing. Yep, call me the 'rantau' girl now.
Mengingat banyaknya perbedaan yang harus aku alami dalam waktu yang bersamaan, aku jadi terlihat sangat 'lewung'. Sehingga nggak banyak aktivitas yang bisa aku lakuin, karena aku baru aja kenal sama kota ini, But, the best thing is I have so so so much spare time cause the college schedule isn't tied me up, it's super 'selooooooooww', seperti kata orang Solo hehehe.
Minggu ini aku lagi komitmen buat sedikit bikin kamar kosku menjadi kamar yang sedikit bisa dibilang 'artsy' dan memanjakan mata. Karena selama 2 bulan ini kamar kos ku lebih terlihat kayak bakso tanpa caos; polosan. Ea. Then I decided to do make something, DIY of course! Maklum balik jadi mahasiswa tak berpenghasilan lagi hahaha.
Kali ini aku bakal bikin DIY Stationery Holder Organizer nih, bahasa Indonesianya lebih gampang. Wadah pensil. Hari ini aku sadar kalo ternyata aku nggak punya wadah pensil, penghapus dan blablabla selain kotak pensil yang aku bawa ke kampus. Sedangkan sebagian yang nggak dibawa ke kampus berserakan gitu aja di meja. Sampai akhirnya aku menemukan pot bunga plastik bekas es krim pot yang aku beli dulu. Naaaah, setelah diamati pot bunga ini nih yang akhirnya menjadi 'the main topic' buat DIY kali ini.
You will need:
1. Pot Bunga
2. Tali Serat (Inshaa Allah namanya bener, you can check the picture)
3. Gunting
4. Styrofoam
4. Styrofoam
5. Lem Crafting
6. Pernak-pernik (aku pake kancing kayu sih, sesuka kalian mau dihias kayak gimana, no boundaries)
Pertama, bersihkan dulu pot bunga plastik kamu. Jangan sampai kotor atau berdebu ya. Kenapa? Karena kebersihan itu sebagian dari iman. Beri alas pada dasar pot. Kamu bisa pakai kertas karton, atau karton tebal, atau styrofoam tipis. Fungsinya biar lubang-lubang di potmu bisa ketutup dan pensilnya nggak jatuh kemana-mana.
Kedua, beri lem pada badan pot bunga plastik, mulai dari bagian bawah dulu biar hasilnya bisa lebih rapi. Beri sedikit demi sedikit, lalu lilitkan tali serat melingkari badan pot bunga plastik. Lem. Lilit. Lem. Lilit. Lem. Lilit. Sampai menutupi semua badan pot. Nah usahain jangan memberikan lem terlalu banyak ya, karena nanti hasilnya bisa nggak rapi dan lemnya akan kemana-mana.
Voilaaaaaa!
Bakalan kayak gini deh jadinya, ahoooooy~
Seenggaknya nggak keliatan amat kan kalo itu pot bunga plastik bekas es krim pot wkwkwk
Setelah itu, kasih aja hiasan sesuka kamu. Mine look like this. Iya iya iya, ngaku deh, soalnya emang adanya cuma kancing kayu ini di kos huahahaha, jadi aku pake buat hiasan. But it's cute enough tho.
Baru work desk aja sih yang didekorasi, tapi nggak papa lah ya ada kemajuan dikit huahahaha. I found that hanging my post card collections from 'Hidup Mati di Tanah Sengketa Tambak Bayan' will make my work desk interesting. And yeah, it's work! I love how each of pictures designed, cause it's like talk to me. My fave postcard, yang gambarnya 'drumulen' hahaha. Pojok kanan atas, iya itu namanya 'drumulen' kalo di Surabaya. Eh drumulen atau swing apa gitu ya. Gatau lupa deh hahaha. Pokoknya ngingetin aku sama jaman sekolah dasar, betapa antusiasnya aku untuk pergi ke Taman Remaja Surabaya dan rela antri cuma demi wahana ini :)
Well, that's all. I hope you guys enjoy my DIY project. And today's DIY Project; this is what I call 'KEREATIF' :))))))
Holla amigos x siempreeeee~
The last 4 months was a thunder storm of life. It was an up
and down. A messed up sleep circle. A super tied up schedule. But also a
blessing. Nah saking sibuknya, aku jadi kurang bisa ngatur waktu untuk main
blog lagi. Meski hasrat ingin nyampah di blog begitu meluap-luap tapi apa daya
tak punya waktu untuk main blog. Seriously. Literally.
Dan hari ini patut dirayakan atas tampilnya satu postingan baru
di halaman blogku, yeay!
Btw, terhitung udah tiga minggu ini timeline socmedku penuh
banget sama temen-temen yang lagi bahagia menyandang status sebagai
purna-mahasiswa. Yep, mereka akhirnya wisuda dan berhak menambahkan label
sarjana di nama lengkap mereka. Mungkin karena terlalu bahagia, believe me I
know that feeling, banyaaaaaakk banget foto wisuda yang di post sampe—sorry—it’s
getting too much hahaha. Tapi nggak apa-apa deh, kan empat tahun sekali yha. Congraduation :’)
Dan 26 September, bertepatan dengan wisuda MMB 2012! Hallo
kalian MMB 2012 yang mungkin baca blog ini. Remember when you are junior and I’m
your student resource development officer HUAHAHAHA, kalian ku kader sampe malem-malem!
Yang dulu rajin aku omelin kalo nggak bener, eh sekarang udah wisuda aja. Selamat,
so proud of you! Nah dalam rangka wisuda MMB 2012 ini nih, aku sampe mau repot-repot
bikin DIY bunga gula-gula karena saking sayangnya. DIY bunga gula-gula ini bisa kita pake buat souvenir, kado, oleh-oleh, hantaran,
atau apapun itu. Suka-suka sih mau buat apa hahaha. In this case, buat souvenir
wisuda.
Nah, nggak pake lama yuk langsung simak cara buat souvenir
yang super gempil ini.
You will need~
1. Pot bunga plastik
2. Sterofoam
3. Benang & Jarum
4. Kain perca
5. Renda
6. Gunting
7. Pisau
8. Kertas
9. Jangka
10. Lem tembak & isinya
11. Rumput plastik
12. Permen loli
And here we go, Captain!
Pertama, potong gabus pake pisau sesuai dengan yang ukuran dibutuhkan. Untuk
panjang dan lebarnya bisa disesuaikan sama diameter pot. Sedangkan tebel
gabusnya suka-suka aja sih, mau tebel boleh, tipis juga nggak apa-apa. Tapi
jangan ketipisan, yang penting gabusnya cukup kuat buat ditancepin permen
nantinya. Kalo aku kira-kira ketebalan gabus yang aku pake adalah 2,5 cm. Eits,
gengs gabusnya pake gabus yang kayak di gambar aku yah. Karena gabus yang warna
tosca gini emang biasanya khusus buat rangkai bunga gitu deh, jadi lebih
gampang dipakenya. Dan berhati-hatilah dengan pritilan gabus tosca ini karena
mereka rapuh dan lengket kemana-mana, iyuuuuuhh, Annoying!
Setelah gabusnya dipotong sesuai ukuran, nah saatnya kamu
sesuaikan dengan lingkaran potnya. Entah gimana caranya, bentuk dan sesuaikan aja biar
gabusnya bisa ditaruh di dalem potnya sebagai media tancep-tancep rumput dan
bunga gula-gulanya. Usahakan gabus bisa berada setengah sentimeter di bawah
mulut pot ya, jadi agak masuk ke dalem dikit.
Setelah dirasa udah pewe banget tuh posisinya si gabus,
saatnya menggunakan lem tembak. BANGBANGBANG! Garing ya? Kriuk. Okeh, lem aja
tuh di sekeliling gabusnya dan atur sampe posisinya di pot bisa pas. And we’re
done with the gabus-tosca-kriwil-kriwil-nyebelin.
Setelah itu ambil selembar kertas dan buat pola lingkaran
dengan jangka. Pola ini nantinya bakal jadi template kita buat motongin kain
percanya. Nggak harus pake jangka sih, asal bisa bikin gambar lingkarang nyaris
sempurna aja udah cukup kok heuheuheu. Buat lingkaran dengan diameter sebesar
kurang lebih 9 cm.
NAH! Setelah itu potong kain sesuai dengan pola lingkaran
yang udah kita buat tadi. Lemme give you a tips, tumpuk kain sebanyak jumlah
permen. Contohnya nih, aku butuh 5 permen buat satu pot bunga gula-gula. Nah,
kain ini kan fungsinya untuk pembungkus permen lolinya, jadi aku tumpuk 5 helai
kain perca yang siap dibentuk pola dengan lingkaran kertas yang udah aku buat.
Sematkan jarum pentul di kain dan kertas, jadi kain dan kertasnya biar nggak
gerak kemana-mana. Baru deh gunting sesuai dengan pola. It easier to do dan
save your time a lot!
Daaaaann kita sampai ke bagian yang agak sedikit rempong.
Jahit pinggiran kain dengan benang pake teknik tusuk jelujur *tseeeehh*.
Gunanya kita jahit pinggiran kain dengan benang ini adalah biar ketika
permennya dibungkus pake kain perca, kita jadi gampang buat bikin simpul bagian
pangkal lolipopnya. Begitooooh. Percayalah pada akoooh, bungkusnya nanti jadi
rapi gengs.
Setelah itu lem renda yang kita punya ke bagian bawah lolipopnya,
yang rapi ya biar chatiqueeee~
Kalo udah dikasih renda, sematkan satu rumput plastik ke
tiap permen lolipopnya. Jadi biar keliatan rempyek *halah opo iku* dan keliatan
penuh pas nanti di tata di pot. Lalu hias pot dengan rumput plastik terlebih
dahulu, lem aja tuh di pinggir-pinggir gabusnya. Setelah itu baru deh tancepin
bunga gula-gulanya. Atur sedemikian rupa biar kelihatan bagus. KUDU BAGUS. We’ve
been through this step tho!
Kamu bisa menambahkan pesan-pesan biar makin bermakna, kayak
punya akuuuu :3
And we finally made it, gengs! Lucuuuuu kan? Yuk cobain
dirumah.
Hi Adup, pretty much galau feeling when I reopen the old files of college. Rasanya kayak setengah hati pingin balik ke masa lalu. Hahaha. But then I realize that college is one of the most favorite part in my life, of course. I collect several photo that may represent what we've done through 3 years. Wishing that you still remember that.
Sering ketawa-ketawa sendiri rasanya kalo inget angkatan kita yang, hmmm let say--half stranger. Yang beda dari mahasiswa kebanyakan pada waktu itu. Duh, aku sukaaaa banget kalo kita nyebut diri kita beda. In fact emang kita beda. Beda banget! Selalu ada rasa bahagia yang menilisik di hati setiap inget betapa frontalnya kita buat bahagia dan bebas--dan juga keluar dari jalur tradisi, semenjak kita berdiri sendiri. Mulai dari seberapa ngototnya kita pingin punya dresscode beragam pas Makrab pertama kita, oke yang itu emang aku sama Brian yang kebacut ngotot sih hahaha. Lalu mulai sibuk dengan pembentukan HIMA blablabla, well sometimes aku kangen jadi mahasiswa ingusan semester satu atau dua.
Kita punya banyak cerita di pembentukan HIMA. Mulai dari nangis sampe ketawa-ketiwi kita pernah ngerasain cuma karena merjuangin sesuatu yang sekarang kita sebut HIMA MMB. Bahkan Adhoc vs Mahasiswa MMB ever exist kalo kita inget-inget soal forum logo. OMG! We are growing too fast hahaha. Ngonsep OPP, melek tiap malem, debat masalah grand design, aku bahkan nggak percaya aku pernah ngelakuin itu kalo inget sekarang jam 10an rasanya aku udah tidur pules hahaha. Masih inget waktu kita jadi TSKnya Adit? Ya ampuuuunn! Lucu sekali waktu itu. Bikin kipas-kipasan dari kepala WPAP Adit, bikin sticker, banner. Pertama kali kita pesta demokrasi, dan hal yang kita pinginin: kampanye sekeren-kerennya, gaul, nggak kaku, nggak mainstream, dan bahagia. Lalu endingnya Noven yang menang dan kita serius banget pingin bikin sertijab paling nggak biasa di PENS. Undangan pop-up buat Depres yang gambarnya langsung dari Kahima terpilih hahaha, saking bahagianya kita sampe undangan aja nggak mau mainstream. Lalu desain stage Metamorphosis of HIMA MMB, I'm totally in love with that idea! Bahkan sebelum acara jalan, kita bingung banget cari tempat karena mendadak lapangan basket dan hall D4 dilarang. Itu malam dimana kita berasa lahir, ngebuktiin kalo kita orang-orang kreatif yang bisa diajak mikir konstruktif. Atau inget proker absurd kita soal menghitamkan PENS? Aku bahkan pingin ketawa kalo inget-inget itu. Nyinyiran banyak orang malah bikin kita geregetan pingin setor muka di depan mereka. Mulai dari nyiyiran soal balon waktu wisuda, soal bikin acara di lapangan merah, soal bikin flashmob pas PENS Cup, ketetapan yang dicorat-coret, nggak boleh bikin acara karena nggak punya HIMA, rebutan warna item sama BEM. We're really really really a trouble maker! And proud of it. Lalu apa kabar MMBFest? Melek malem, melek pagi, nangis-nangis. Rasanya nyesek, nyesek banget. Tapi dari situ rasanya jadi tau, tau mana yang mati-matian selalu ada disebelahmu, mana yang enggak. Duuuuh, jadi melow. Hahaha. Kongkow bareng, curhat-curhat tengah malem, ngerjain tugas bareng, proyekan bareng, ngonsep kaderisasi bareng, galau bareng, nobar kampung makicu bareng, ngerjain TA bareng. Ya ampun sudah khatam semuanyaaaa!
The best thing having friend like you is we just look alike. Kita satu selera: sepatu, parka, tas, fashion, desain, curhatan, pendapat, dan blablabla. Inget nggak? Dengan nggak sengaja kita pernah ngeshare berita yang sama, Mashup 2014 Best Song, pada waktu yang sama. Atau when you drew a girl with flower crown, I did it too. Atau soal prinsip a woman has to be awesome and independent. Oh itu konyol, but we just connected. Hahaha. Seneng bisa kenal orang kayak kamu, rasanya nggak usah susah-susah ngomong tuh kamu udah paham banget apa maksudku.
Well, Happy (belated) Birthday Adup!
Tetep awesome di perantauan yah--I know you're always awesome.
Sukses untuk karirnya, untuk cita-citanya, untuk kehidupan yang lebih baik.
Didekatkan jodohnya, dilancarkan rejekinya, dikuatkan iman dan taqwanya.
Semoga segera sampai di titik itu: solo exhibition!
Amin, amin, amin.
Pada akhirnya nanti kita akan saling menunggu, untuk cerita ini dan itu. Tentang definisi bahagia yang sudah kita tulis jauh-jauh hari, mungkin mulai dari hari ini, atau kemarin. Kita sama-sama percaya kalau mimpi, angan, atau keinginan hari ini adalah gambaran masa depan yang kita yakini hari ini. Dengan doa-doa yang setiap harinya meluncur dari orang-orang yang sama-sama peduli. Bismillah. Selalu ada happy ending untuk orang-orang yang berjuang tidak setengah hati. Good luck, Adup! Good luck for us!

Nama siapa yang kau tulis di pasir pantai?
Kau
Nama siapa yang kau tulis di pasir pantai?
Kau
Nama siapa yang kau tulis di pasir pantai?
Kau
Nanti
setelah habis benar cintamu pada kekasihmu,
ketika benci habis digusur rindu
Aku akan menghambur
seperti abu kremasi berbau lapuk
Seperti jalang baru kenal cinta
Karena cinta cuma basa-basi di malam-malam telanjang
datang terlambat,
seringnya tidak tepat
Mendamba dicinta
dipuja layak hujan bulan sebelas
Nanti,
nama siapa yang kau tulis di pasir pantai?
Kita
Tapi
Nanti
Kau
Nama siapa yang kau tulis di pasir pantai?
Kau
Nama siapa yang kau tulis di pasir pantai?
Kau
Nanti
setelah habis benar cintamu pada kekasihmu,
ketika benci habis digusur rindu
Aku akan menghambur
seperti abu kremasi berbau lapuk
Seperti jalang baru kenal cinta
Karena cinta cuma basa-basi di malam-malam telanjang
datang terlambat,
seringnya tidak tepat
Mendamba dicinta
dipuja layak hujan bulan sebelas
Nanti,
nama siapa yang kau tulis di pasir pantai?
Kita
Tapi
Nanti
#SisaSelasa dengan judul 'Nama siapa yang kau tulis di pasir pantai?'
Kapan terakhir kali
kau jatuh cinta, Nara?
Sudah tiga ratus
sebelas hari sejak kau memutuskan pergi. Siapa yang rela menghitung setiap
menit setelah semua berakhir? Aku. Aku masih sudi menghitungnya, Nara.
Kesedihanku begitu saja menerbangkanku ke Lombok siang itu.
Spontanitasku kumat lagi. Biar saja, toh sudah tidak ada dirimu yang selalu
mengomel tiap kebiasaan mendadak itu datang. Kamu yang tiap hari selalu bangun pagi
tepat pada pukul lima lebih sepuluh menit pasti akan gusar jika tau dengan
bodohnya aku memutuskan pergi dengan persiapan tak lebih dari dua jam sebelum
pesawat itu menerbangkanku dari Surabaya ke Lombok. Tak apalah Nara, kini sudah
tak ada lagi dirimu.
Cuma karena teringat tentangmu di siang bolong lantas aku
merasa benar untuk pergi melayangkan diriku di atas pasir pesisir Gili
Trawangan sore itu. Matahari jam lima sore masih terasa membakar tubuhku yang
kini semakin cokelat. Jika kau tau aku nekat mandi sinar matahari pasti kau sudah
marah besar, kau bilang anak gadis tak elok berkulit terlalu cokelat nanti
dikira doyan kelayapan. Tapi sekarang pengecualian. Tak apalah Nara, kau pun sudah tak lagi peduli.
Kapan terakhir kali
kau jatuh cinta, Nara?
“Mbak, sudah jam enam malam”, seseorang menyapaku.
“Oh iya, saya tahu."
“Oh maaf, saya kira Mbak ketiduran, pake kacamata hitam jadi
nggak kelihatan Mbak.”
Aku mengerlingnya. “Fira.”
“Apa?”
“Panggilnya Fira aja, jangan Mbak, lagian tua situ kayaknya.” kataku sewot.
“Oh maaf, saya Alex”, jawabnya kalem sambil mengulurkan
tangan.
Aku menjabat tangannya lalu kembali berbaring di kursi
pantai yang sedari tadi menemaniku. Dia tak langsung pergi, malah ikutan
berbaring di kursi pantai tepat disebelahku. Senja kini hanya sebatas garis
merah tua di ujung sana. Aku menatap semburat warna oranye yang tersisa. Merasakan
sapuan angin di wajahku. Meresapi suara ombak yang kini makin lama makin keras.
Senja. Kau masih suka senja, Nara? Pasti iya. Senja mana yang tak kau bekukan
dalam kameramu? Senja mana yang tak kau unggah dalam akun sosial mediamu.
Bahkan senja murahan di pinggiran kota akan tampak berbeda dalam perspektifmu.
Selalu cantik. Aku harap kau juga sedang dinaungi senja di manapun kau berada.
Jakarta, mungkin. Entahlah.
“Sendirian aja Mbak ... eh Fir?”, tanya lelaki itu
membuyarkan lamunanku.
“Iya”, jawabku singkat tanpa menoleh.
“Gila!”
“Apa?” Aku melepas kacamataku. Memalingkan wajahku padanya
sambil melotot.
“Enggak. Enggak. Bukan gitu maksudnya. Cewek pergi traveling
sendirian itu kerennya luar biasa! Where
are you come from?”
“Surabaya. Lah kamu sendiri, sendirian?”
“Hehehe iya”, jawabnya sambil meringis.
“Sama aja. Ngapain?”
“Ngapain? Apanya?”
“Kamu ngapain kesini sendirian? Nggak punya temen yang bisa
diajakin pergi? Cari pelarian karena habis diputusin pacar?”, kataku seenaknya.
Wajahnya tiba-tiba menegang. Aku sempat salah tingkah takut
salah berucap. Bagaimana jika dia memang mencari pelarian karena diputuskan
pacarnya. Atau lebih buruk. Atau. Atau. Atau. Sejuta spekulasi membekukan otakku dan rasa bersalah tiba-tiba membanjiriku.
“Cenayang ya?”, katanya memecahkan beberapa detik keheningan
karena pertanyaan asal-asalanku.
“Hah?”
“Kamu cenayang ya? Kok bisa pas gitu pertanyaannya?”
“Cuma tebakan beruntung.”
“Lulusan psikologi?”, pertanyaannya lebih serupa tuduhan.
“Cumlaude”, jawabku setengah pamer.
“Sudah kuduga, orang-orang psikologi memang pintar benar membaca
orang”, katanya yang terlihat bangga sekali memergokiku sebagai lulusan
psikologi yang baginya lebih terlihat sebagai lulusan percenayangan.
“Jadi ... kamu kesini lagi dalam pelarian karena habis
diputusin pacar?”, tanyaku geli.
“Sebenernya pingin buang kenangan...”
“Hmmmmm.....”, kataku sambil mengangguk-angguk, tidak ingin
memperpanjang percakapan yang tidak direncanakan ini.
“Kata orang, semakin kita berusaha melupakan seseorang, justru
kita akan semakin ingat. And I believe that time heals
nothing unless we move along with it. Jadi aku memutuskan untuk pergi
kesini. Di tempat yang sama. Waktu yang sama. Bahkan aku duduk di kursi pantai
yang sama persis seperti waktu itu. Dia duduk di kursi yang sedang kau duduki
sekarang. Aku rasa berusaha membuang kenangan justru dengan mendatangi titik awalnya mungkin akan berbuah jawaban...”, kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja dari lidahnya.
Aku tercengang.
“Jadi .... dia itu ... hmmm ... waktu ituuu ...”, kataku
lambat-lambat, takut salah bicara.
“Tunanganku. Yang kini ku anugerahi gelar mantan-calon-istriku.
Di tempat ini aku memintanya menjadi labuhan jiwaku. Yang akan genap sebagai
sebagian hatiku. Yang akan jadi separuh aku. Tapi tiga minggu yang lalu ia
memutuskan pergi. Pergi jauh dan tak bisa kembali. Ia sempat berpamitan, bahkan
meminta maaf dan mengembalikan cincin tunangannya padaku..."
Aku melirik tangannya, menelusuri jari-jarinya mencari cincin tunangan yang mungkin saja masih ia kenakan. Masih ada. Cincin itu masih melekat di jari empunya, meski pasangannya sekarang entah ada dimana.
"...Tapi bukankah sewindu itu waktu yang tak singkat untuk semudah itu melupakan seseorang yang sudah membagi tawa dan tangis bersamamu? Yang menenangkan di subuh yang petang dengan doa-doa berbaris-baris dan menghangatkan di malam-malam ketika kamu butuh dukungan. Bukankah akhirnya hubungan yang dielu-elukan atas nama cinta ketika kandas hanya akan jadi simbiosis-entah-apa-namanya yang berdasar pada kalkulasi materi, waktu, dan pengorbanan yang terbuang percuma? Lebih buruk lagi, masalah perasaan yang kini sudah tak lagi jadi mutualisme, antara usai tak usai. Entahlah. Nggak semudah itu kan.”
Aku melirik tangannya, menelusuri jari-jarinya mencari cincin tunangan yang mungkin saja masih ia kenakan. Masih ada. Cincin itu masih melekat di jari empunya, meski pasangannya sekarang entah ada dimana.
"...Tapi bukankah sewindu itu waktu yang tak singkat untuk semudah itu melupakan seseorang yang sudah membagi tawa dan tangis bersamamu? Yang menenangkan di subuh yang petang dengan doa-doa berbaris-baris dan menghangatkan di malam-malam ketika kamu butuh dukungan. Bukankah akhirnya hubungan yang dielu-elukan atas nama cinta ketika kandas hanya akan jadi simbiosis-entah-apa-namanya yang berdasar pada kalkulasi materi, waktu, dan pengorbanan yang terbuang percuma? Lebih buruk lagi, masalah perasaan yang kini sudah tak lagi jadi mutualisme, antara usai tak usai. Entahlah. Nggak semudah itu kan.”
Aku menatap wajahnya. Pandangannya jauh di luar garis laut.
Matanya kosong. Apa yang lebih mengerikan dari seorang lelaki yang baru saja
kau kenal di tempat asing yang tiba-tiba saja beberapa detik lalu telah
menceritakan seluruh kesedihannya padamu. Aku cuma bisa diam, ikut melayangkan pandanganku ke titik dimana pandangan matanya jatuh.
“Hahaha aku jadi curhat yaaa, sampe kamu kelihatan bingung
gitu, menyedihkan ya, maaf ya”, katanya tiba-tiba seakan bisa membaca
pikiranku.
“Hmmm nggak apa-apa kok, I’m
sorry to hear that.”.
“Well, everything is
gonna be okay, isn’t?”, katanya. Aku mengangguk, menyetujuinya.
Kapan terakhir kali
kau jatuh cinta, Nara?
Apa kau pernah merasakan cinta sedalam lelaki disampingku
ini? Pernahkah kau menyesal sepertinya ketika tiga ratus sebelas hari yang lalu
kau memutuskan untuk pergi? Beginikah rasanya hatimu ketika kita sepakat bahwa
sudah tak ada lagi yang perlu dilanjut, sudah tak perlu lagi bertukar rindu,
dan tak ada lagi mutualisme antara kau dan aku? Seperti apa rasanya patah hati saat itu? Apa cuma aku yang setengah mati menangisi hubungan yang harus berhenti? Sungguh sebenarnya aku rela
menukar semua yang ku punya saat ini untuk mendengar jawabanmu atas semua
pertanyaanku.
“Kalau kamu”, lagi-lagi dia memecahkan lamunanku.
“Sama.”
“Kamu juga lagi dalam pelarian karena diputusin”, wajahnya
mendadak sumringah. Aku melotot. Buru-buru ia mengubah wajahnya menjadi
prihatin, ekspresi yang sewajarnya ia tunjukkan sedari tadi.
“Iya. Tapi beda kasus sama kamu. Aku nggak sewindu. Nggak
juga sempet tunangan. Apalagi sampe melabeli dia mantan-calon-suamiku. Nggak
sebegitunya.”
“Lalu kenapa repot-repot pergi kesini?”
“Nih...” Aku menyodorkan botol kaca besar padanya.
“Isinya semua kenanganku sama dia. Bukankah cinta nggak
mengenal waktu dan alasan untuk tumbuh? Bukankah yang sampai bertahun-tahun
juga nggak menjamin bahwa cintanya akan lebih kuat dari yang cuma beberapa
bulan bersanding. Kita nggak tau rumus sebenarnya ketika kita jatuh cinta,
bahkan relativitas Einstein juga nggak menjawab. Besok pagi aku mau buang ini.
Dilarung ke laut, biar semesta yang merenggut semua tentang dia.” kataku.
“Harus di Gili Trawangan?”
“Entahlah. Aku cuma merasa disini aku akan menemukan
jawabannya. Mungkin karena semesta nggak pernah membiarkanku sampai sini waktu
aku masih sama dia dan sekarang rasanya aku merasa benar untuk pergi kesini
sendirian. And here I am”
Aku memandangi botol kaca besar yang kubawa. Besok botol
kaca ini harus tergerus ombak, diombang-ambingkan oleh laut. Lalu tenggelam, atau mungkin terdampar di negeri antah berantah. Begitu juga
perasaanku, besok harus kutandaskan sampai habis benar. Dan kenangan yang
selama ini menjadi hantu nantinya akan bebas menguap karena aku memaksa ikhlas.
Bukankah tiga ratus sebelas hari bukan waktu yang singkat untuk menunggu, Nara?
Aku menghabiskan malam bersama lelaki yang ada disampingku. Kami bicara banyak, mulai dari film romantis sampai solusi kongkrit untuk negeri. Mulai dari puisi sebait sampai keliahaiannya berbahasa Prancis. Hingar bingar di pesisir Gili Trawangan tak lebih mengasyikkan dari percakapan yang sedang kami jaga tetap menyala.
Sudah lewat tengah malam ketika kami terlalu lelah untuk menertawai cerita kebodohan kami soal cinta. Aku yang selalu rela sendiri menunggu, dan dia yang rela sendiri berjuang. Malam itu angin lebih bersahabat, berhembus tapi tak kencang. Suara ombak yang menggelung terdengar samar. Menenangkan. Kami kompak diam. Menyesap dalam-dalam tentang apa yang melayangkan kami ke tempat ini, detik ini. Merayakan patah hati yang diam-diam kami bagi untuk sekedar kami tangisi lagi, tapi kali ini tak sendiri.
Aku menghabiskan malam bersama lelaki yang ada disampingku. Kami bicara banyak, mulai dari film romantis sampai solusi kongkrit untuk negeri. Mulai dari puisi sebait sampai keliahaiannya berbahasa Prancis. Hingar bingar di pesisir Gili Trawangan tak lebih mengasyikkan dari percakapan yang sedang kami jaga tetap menyala.
Sudah lewat tengah malam ketika kami terlalu lelah untuk menertawai cerita kebodohan kami soal cinta. Aku yang selalu rela sendiri menunggu, dan dia yang rela sendiri berjuang. Malam itu angin lebih bersahabat, berhembus tapi tak kencang. Suara ombak yang menggelung terdengar samar. Menenangkan. Kami kompak diam. Menyesap dalam-dalam tentang apa yang melayangkan kami ke tempat ini, detik ini. Merayakan patah hati yang diam-diam kami bagi untuk sekedar kami tangisi lagi, tapi kali ini tak sendiri.
“Fir, sadar nggak sih, kita sama-sama cari jawaban atas perasaan
yang nggak kunjung usai. Lucu...”, katanya sambil menatap langit. Sedetik kemudian
memalingkan wajahnya padaku dan tersenyum memandangku.
"Besok aku temani kamu buang botol kaca kenanganmu itu, boleh ya?", katanya sambil mengusap-usap kepalaku.
"Besok aku temani kamu buang botol kaca kenanganmu itu, boleh ya?", katanya sambil mengusap-usap kepalaku.
Oh purnama.
Bulan sedang bulat penuh.
Indah sekali.
Hanya saja sinarnya kini sedang memantul di wajah lelaki di
hadapanku. Alex. Dan ombak yang sedari tadi menderu sepertinya kini membisu,
ikut mendengarkan degup jantungku. Ia masih menatap lekat wajahku. Menunggu
jawaban atas persetujuanku tentang dua orang yang sama-sama mencari jawaban
atas perasaan yang tak kunjung usai yang dipertemukan secara tidak sengaja di
senja menjelang malam. Tentang jiwa yang sama-sama ingin membuang kenangan dan bertaruh harga tinggi untuk esok tanpa embel-embel cinta yang dibodohi.
Aku menahan napas. Menghitung sampai tujuh.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Enam.
Tujuh.
Semesta berkonspirasi! Iya. Semesta berkonspirasi. Dengan pesisir
Gili Trawangan. Ombak. Pasir berbisik. Kursi pantai. Botol kaca berisi
kenanganmu. Purnama. Obrolan tidak jelas. Tanggal sembilan belas. Senyum itu. Alex. Alex. Alex.
Kapan terakhir kali
kau jatuh cinta, Nara?
Tujuh detik yang lalu. Aku berkalkulasi tentang perasaan.
Tentang hitungan matematis kemungkinan cinta datang. Atas nama relativitas
Einstein yang tak pernah kupercaya kongruen dengan cinta. Dan pencarian jawaban
yang tak kunjung datang. Dengan pria yang tak sampai tujuh hari tujuh malam ku
kenal. Tiba-tiba semuanya melebur menjadi satu. Membentuk jaring-jaring seperti
bintang selatan yang akan menuntunku pulang.
Apa yang terjadi tujuh
menit lagi? Semoga aku punya jawaban atas tiga ratus sebelas hari sebelumnya. Semoga
aku jatuh cinta, Nara.
Tulisan ini merupakan hasil #SisaSelasa dengan tema 'Apa yang terjadi tujuh menit lagi?' yang sudah habis deadline *aaaak ampuni aku*





















































