Surat Untuk Mantan

April 01, 2014

Tulisan ini diikutsertakan untuk lomba #suratuntukruth novel Bernard Batubara.

Dear kamu,

Hai, apa kabar?. Basa basi, ya. Bukan, bukan itu yang ingin kutanya. Miris memandangmu, tapi tak pernah mampu memeluk hatimu. Sudah lama kau tak pernah mengelus lembut kepalaku, menggenggam tanganku, meneriakiku dengan sebutan kesayanganmu, atau sekedar mengirim pesan singkat ‘Kamu dimana?’. Iya, aku rindu.

Sembilan puluh tujuh hari bersamamu terasa candu. Betapa aku selalu menghitung detiknya saat aku menggenggam hatimu. Menggoreskannya lambat – lambat dalam otak hingga teringat terlalu kuat. Oh, aku tak pernah lupa barang sesaat. Hebat. Kau harus tahu betapa candu dirimu. Iya, aku rindu.

Sini biar kuberitahu, betapa beruntungnya dirimu. Perempuan ini kalut sejak kamu katakan padanya tidak ada yang perlu dilanjut. Setelahnya menangisi dirimu di malam – malam yang larut dan bertanya – tanya dimana letak kesalahannya, apa yang sudah diperbuat, atau terlalu banyak menuntutkah dirinya?. Terkadang hanya diam, memutar memori, kemudian tersenyum sendiri. Manis. Detik berikutnya akan kembali merajut perih. Tidur pun tak pernah jauh – jauh dari kamu, mimpi kamu. Iya, aku rindu.

Tak perlu repot – repot bercerita ini itu tentang hidupmu, toh aku selalu tau. Setengah mati aku cemburu. Sedikit bahagia mengetahui hubunganmu yang baru, sebagian besar terasa menyakitkan, dan seluruhnya soal ketidakpahamanku tentang dirimu. Harusnya aku tahu diri atas peringatanmu. Bahwa tak sepantasnya lagi menaruh hati pada yang sudah termiliki. Namun bukan aku wahai pembolak – balik hati sendiri. Miris – miris aku tersenyum. Iya, aku masih saja merindu.

Kurang tangguh apa sih hatiku ini?. Tak sekali dua kali aku mencoba menghindarimu atau berusaha mencampakkanmu. Bah, sekalinya menatap ke dalam matamu, mendengar suaramu, bercakap basa – basi denganmu ya mau apalagi jika aku tak mampu untuk tidak menaruh hati. Memang berkali – kali sudah memar biru, tapi tetap saja aku menunggu. Iya, seringnya aku rindu.

Aku mengenalmu tak sehari dua hari, pun dirimu mengenalku. Seharusnya kau paham betul bagaimana egoku, sehingga kau tau seberapa besar usahaku untuk menjatuhkan gengsiku sendiri. Sungguh ingin kutertawakan saja diriku ini yang masih saja diam – diam lancang menyebut namamu dalam doa sehari lima kali. Yang masih saja setia menggantungkan harapan – harapan dalam ketidakpastian. Dan yang masih saja repot – repot memperhatikan hidupmu. Iya, ini masih saja soal rinduku.

Aku menulis bukan untuk meminta kemurahan hatimu. Bukan. Hanya terkadang sakit tak akan pernah bisa begitu saja diungkap bibir. Hanya sekedar untuk kau tahu. Dengar, aku tak pernah memintamu kembali, pun tak pernah memaksamu peduli. Kini aku dan kamu hanya sebatas berdua dalam memori. Namun aku masih saja enggan menuli. Ironis. Iya, rinduku memang terlalu.

Hai, apa kabar?. Basa basi, ya. Bukan, bukan itu yang ingin kutanya. Sederhana. Apa aku tersemat dalam rindumu juga?

Pecandu dirimu,
Aku

You Might Also Like

2 comments