Monday, March 13, 2017

Membebaskan Rindu

Untuk belenggu masa lalu,

Hai, apa kabar? Sudah lama tak bersua ya. Terkadang tiba-tiba saja ingat kamu, secepat kilatan cahaya pertanyaan itu selalu muncul “kamu lagi ngapain ya?”. Detik berikutnya aku terus menanyakan pertanyaan wajib setelahnya “kamu pernah kepikiran aku juga nggak ya?”. Ini konyol! Harusnya aku bahagia jika kamu tak pernah menampakkan raut mukamu di depanku lagi. Harusnya aku gembira tak terkira jika kamu harus pindah jauh jauh jauh sekali dari kota ini. Tapi ternyata tidak. Aku malu mengakuinya. Aku merindukanmu. Seperti pepohonan merindukan hujan di tengah kemarau panjang.

Kamu tau tidak, aku masih hafal betul aroma tubuhmu, entah itu minyak wangimu atau semerbak pewangi pakaian yang menempel seharian di kemeja kesayanganmu. Aku masih ingat caramu menyibakkan rambut. Atau caramu membenarkan kacamatamu. Atau di lengan mana kamu memakai jam tangamu. Atau sepatu apa yang kamu pilih di hari-hari gerimis. Atau tatapan menyebalkan milikmu saat kita berdebat seru. Atau cara bicaramu—bahkan pemilihan katamu. Atau caramu tersenyum padaku. Aku ingat betul.

Iya, aku rindu. Seringnya jadi sendu. Tolong, jangan membenciku.

Sungguh aku ingin cerita padamu tentang hidupku—aku ingin mengadu. Pinginnya sih berkeluh kesah seperti tempo dulu dipundakmu. Ngomel ini itu tentang betapa nggak adilnya dunia sama aku. Meracau tentang bermacam-macam kegelisahan. Tentang hal-hal naif yang diam-diam aku pikirkan. Marah-marah, menyebut sumpah serapah dengan lantang, menyumpahi orang-orang menyebalkan. Sungguh aku ingin melakukan itu sekarang. Bersamamu. Karena cuma kamu yang tau apa yang tepat diucapkan, apa yang tepat ditindakkan, dan apa yang tepat didiamkan.

Aku sudah lelah berusaha menghubungimu lewat semesta. Membisikkan namamu bersama angin. Menanyakan kabarmu lewat telepati. Menemuimu lewat mimpi. Mengirimkan firasat-firasat yang bersenyawa dengan udara. Dan menyelipkan dirimu di tiap doa. Katanya semesta berkonspirasi? Nyatanya pesanku tak kunjung kamu balas. Katanya semesta mengamini apa yang aku imani? Tapi kenapa kamu belum juga sadar jika aku masih disini. Sendiri.

Bukankah menahun itu waktu yang lama untuk jatuh cinta lagi?

Bukankah kita sama-sama telah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi?

Bukankah masa lalu seringnya cuma bikin candu?

Lalu kenapa aku masih saja betah menunggu?

Thursday, December 1, 2016

Hujan selalu memacu rindu
Namun ketika derasnya sudah memburu
Seakan semua jadi kelabu
Menguar pilu di masa lalu

Hujan selalu serupa dirimu
Yang syahdu menjerat rindu
Namun meremukku ketika bertemu

(Rofaramadhani, Desember 2016)

Thursday, September 29, 2016

DIY: Cityline Wallpaper

Jadiii, semenjak kamar kosan aku sudah pindah ke lantai dua *oke itu sudah lama sekali, like a whole semester I've lived upstairs hahaha* aku memutuskan untuk mendekorasi ulang semuanya. Berawal dari eyel-eyelan sama Ibu penjaga kosan soal cat kamarnya sampe blablabla soal barang-barang lama mbak kosan yang sudah pindah tapi digeletakin gitu aja di depan kamar baruku. Tapi mengingat aku hanya akan bertahan satu tahun lagi di kamar ini, then mengalah sajalah. Sooo, even the wall has very-very-literally pale green color, I still love my new room. OK, let's make it a comfy nest!

What will you need:
1. Selotip hitam (I used Vinyl Electrical Tape, because it's very cheap, IDR 1K for 1 roll, LOL!)
2. Gunting atau Cutter
3. Penggaris


First time first!
Bayangkan pola cityline yang kamu inginkan. Banyak sekali referensi siluet kota di internet, go to Pinterest for more interesting references. Aku memilih pola New York abal-abal karena gampang ditiru dan nggak akan ngabisin banyak selotip. Btw, nggak usah di sketch dulu di tembok, langsung aja biar cepet!

Setelah itu, mulai tempelkan selotip di tembok. Nah ini nih gunanya penggaris. Since aku adalah orang yang gemes banget kalo ngeliat garis yang nggak lurus dan presisi, maka aku pake penggaris untuk membantu membuat pola-pola outline kotanya. Bayangkan bangunan yang saling tumpuk menumpuk ketika dilihat dari tampak depan dan kreasikan selotipmu di atas tembok yang polosan itu heuheuheu.

And voilaaaa .........


Nggak mirip New York sama sekali, LOL! Ngasal sih ini hehehe

This down town spice up my day~


BONUS NARSIS DI POSTINGAN INI!!! :3

Easy, rite?

I only spent about 5-6 rolls of tape. FYI karena ini selotip kabel jadi dia ngga nempel banget gitu di tembok, jadi someday mau dicopot juga nggak bakalan bekas & nggak bakalan diomelin Ibu Kos heuheuheu.
Well, it's so easy, cheap, and cool. Happy Crafting!
Selamat menuju weekend!
XOXO

Friday, June 3, 2016

Boleh Bermimpi (titik)

Tulisan ini pernah diikutkan dalam program seleksi #MenyapaNegeriku 


PENDAPAT DAN IMPIANMU TENTANG PENDIDIKAN INDONESIA

Saya dibesarkan atas pemahaman betapa pentingnya mengenyam pendidikan formal. Saya dididik atas pengertian bahwa pendidikan yang baik akan menjamin sebuah kehidupan yang berarti; lebih dari sekedar orientasi materi. Dua puluh satu tahun makan bangku pendidikan formal lantas tak menjadikan saya membuka mata tentang apa itu pendidikan. Maka seharusnya pendidikan bukan cuma sekedar hitungan matematika selama dua jam sehari, atau tentang ujian nasional enam mata pelajaran dalam tiga hari. Saya bersyukur dikenalkan dengan Kelas Inspirasi yang menyadarkan bahwa ilmu tak melulu soal duduk di bangku hingga pukul satu. Tak juga tentang berpuluh-puluh buku pelajaran satu semester yang seringnya terasa berat untuk dipanggul. Tidak, saya tidak sedang mengintimidasi soal sistem pendidikan. Cuma seringnya kita lupa, sistem itu cuma sebatas teknis. Selebihnya itu tentang mendidik dengan hati; tentang guru-guru yang rela bangun pagi untuk berbagi. Mungkin jika pendidikan hanya sebatas soal kejar-mengejar materi, sekarang saya tak pernah ingat alasan Mr. Sartono membubarkan PNI. Ya, karena guru saya—Pak Kies—yang dengan semangatnya memeragakan tokoh demi tokoh perjuangan Indonesia maka saya jarang lupa tentang sejarah hingga sekarang.

Indonesia butuh hati yang diletakkan pada tiap-tiap pengajar, butuh lebih banyak Pak Kies; yang tidak hanya menjelaskan panjang lebar tentang sin cos tan, atau hanya mengantarkan untuk mendapatkan selembar kertas berlabel ‘ijazah’ lalu kemudian lupa gunanya apa. Karena saya rasa pendidikan itu bukan cuma perkara ilmu formal yang wajib dihabiskan dalam dua belas tahun; jika beruntung ditambah empat tahun di perguruan yang lebih tinggi. Ini soal mencerdaskan bangsa, memberikan inspirasi, menanamkan sopan santun, membangun kepercayaan diri, membentuk pola pikir nasionalis, menumbuhkan bibit-bibit mandiri, dan menjadikan masyarakat Indonesia masyarakat yang madani. Yang semuanya saya percayai dapat dipupuk sejak dini melalui cara yang efektif; melalui pendidikan formal dengan cara yang lebih manusiawi. Saya percaya membiasakan seorang anak memiliki integritas dalam dirinya akan mencetak satu bibit pemimpin bangsa.

Saya bermimpi tentang sekolah yang menyenangkan, tanpa tekanan takut hukuman karena nilai jelek atau tak mengerjakan PR. Saya bermimpi tentang pendidikan yang jujur dan sederhana; tanpa perlu khawatir soal tidak naik kelas atau manipulasi nilai hanya demi kepuasan pada rapor tanpa angka merah. Saya bermimpi tentang pendidikan yang membangun bangsa dan negeri, bukan embel-embel ngeri soal peluang kerja yang semakin sempit. Saya bermimpi tentang pendidikan yang menyeluruh dirasakan secara adil di seluruh pelosok negeri; berbagi cerita tentang hebatnya Alexander Agung bersama murid-murid daerah Anambas, bermain cerdas cermat bersama siswa Sumba Timur, atau belajar memaksimalkan fungsi internet pada teman-teman di wilayah terluar Indonesia. Serta bersama-sama menyamaratakan pemahaman di seluruh Indonesia betapa istimewanya menjadi siswa melalui pendidikan formal, yang tak hanya diajarkan teori tapi juga apa itu memanusiakan manusia.


Ditulis saat aku mainstream dan iseng banget ikutan apply #MenyapaNegeriku yang jelas sekali aku nggak mungkin lolos sih :))))) etapi pas buka-buka file lama dan nemu ini, setelah dibaca lagi kok menyentuh hati, jadi aku share :') 

Eh, beneran menyentuh nggak sih? HAHAHAHA.

Saturday, May 14, 2016