*Alert: postingan ini mengandung curhat berlebihan tentang satu tahun lepas dari dunia pendidikan*
The first thing that cross in my mind is ‘Thanks God, I’m survived!’
Pernah nggak sih ngerasa kalo kamu adalah the most dumbass person yang nggak bisa dikasih tanggung jawab apapun? Atau ngerasa super insecure karena kamu nggak punya keahlian apa-apa dibanding temenmu yang lainnya? That kind of feeling hits me a year ago. Nggak cuma ketika lulus dari kuliah diploma aja sih sebenernya, pertanyaan semacam ‘abis ini mau ngapain?’ atau ‘plan kedepannya gimana?’ udah mulai menghantu semenjak masuk di awal perkuliahan semester satu. Why? Because I’m the one who good in theorictical but less in practical sedari dulu. Begitu mudahnya cari nilai A tapi nggak bisa diajakin kerjasama ngerjain proyekan itu sesuatu yang ‘yaelah moment’ banget ketika kamu memilih belajar di sekolah vokasi.
Dan ketakutan itu semakin menyata ketika sukses besar melepas gelar mahasiswa diploma tanggal 21 Spetember tahun 2014. Bahagia? Iya. Terharu? Iya. But mostly the euforia can’t hide all the things that I’m afraid of. Apalagi ngeliat temen-temen yang udah pada diterima kerja duluan. Rasanya antara turut berbahagia dan sedih nyampur jadi satu. Jadi fresh graduate itu nggak gampang, apalagi yang belum punya pengalaman kerja kayak aku.
Part yang lebih bikin sedih adalah ketika justru diri kamu sendiri yang nggak yakin sama kemampuanmu sendiri. It’s the most pathetic scene tho. It happens to me. Lemme tell you how insecure I am. Jadi orang extrovert yang saat kuliah aktif di organisasi, aktif di lingkungan pertemanan, dilabeli ‘hits’ cuma karena kamu kenal si ini dan si itu yang juga ‘hits’, dan terkategori sebagai orang yang vocal justru seringnya bikin kamu malah tertekan. I REALLY MEAN IT! Saat kamu keluar dari kursi aman bernama ‘pendidikan’ kamu seperti memasuki tahapan baru yang dimulai dari nol dan orang-orang akan mulai menyorot ‘what is she gonna do now?’ seperti biasanya. Yep! Scene ini kayaknya cuma ada di otakmu tapi kamu bener-bener yakin bahwa yes, people trying to judge you. And it’s currently the most hard part of my life. Prespektif ini sebenernya bisa memunculkan dua kemungkinan aksi yang bakal dijalanin. Satu, terjebak di ke-insecurities-an dan hidup dalam berandai-andai. Dua, you gonna break a leg and show to them that you can do something.
Well, I choose the second option. *dengan terseok-seok dan penuh drama sok tegar*
Being a fresh graduate make you in the bottom list of job hunter (bener atau enggak, sayangnya itu yang tertancap kuat-kuat di otak). Segala macam broadcastan dan info soal job fair are totally a bullshit kalo menyadari bahwa kamu lulusan diploma Multimedia Broadcasting yang berharap punya posisi di industri kreatif, karena hampir sebagian besar perusahaan industri kreatif nggak akan cari karyawan lewat job fair. Dan aku pernah terjebak di keadaan mencari-pekerjaan-di-jobfair selama dua bulan lamanya, sebelum menyadari kalo it’s totally waste my time.
Sampe akhirnya aku berhenti di satu titik dan mencoba memahami situasi dengan membuka mata lebar-lebar tentang apa yang nyata sekarang. So being a freshgrad is not only a curse but also a blessing, karena sesungguhnya kamu bisa melakukan apa aja yang kamu inginkan (asalkan kamu berani, asalkan kupingmu nggak panas kena nyinyiran orang). It’s okay to slow down for a while and thinking what you gonna do. Akhirnya aku memutuskan untuk membuat wishlist. Yap, a wishlist di akhir tahun 2014.
Here’s my wishlist (asli bukan resolusi!)
1. Tetep aktif di komunitas sosial
2. Ngerasain kerja di majalah
3. Bergabung dengan Jawa Pos Group
4. Lanjut sekolah lagi demi sarjana
5. Business trip to somewhere
6. Mencoba peruntungan mengejar dollar (?)
And guess what? Thanks God, I made it all!
Satu tahun rasanya waktu yang sangat sangat sangat cepat untuk merasakan semuanya sekalian. Diperbolehkan bergabung dengan PadMagz pada November 2014 sekaligus merasakan bussiness trip ke Lombok di April 2015 sungguh pengalaman yang nggak bisa disepelekan. Meski nyatanya PadMagz bukan majalah besar sekelas GoGirl! yang lama aku idamkan, tapi justru dari PadMagz aku dapet ilmu banyaaaaak banget soal majalah baik dari sisi redaksi maupun manajemen. Desember 2014, aku masih dikasih kesempatan untuk bergabung dengan salah satu komunitas sosial yang membantu rehabilitasi Gang Dolly. Selama di PadMagz aku juga mencoba peruntungan mengejar dollar (seperti yang selalu disarankan Mas Pandu) dengan cara freelance jual keahlian gambar abal-abal yang alhamdulillah hasilnya bisa dibuat beli senjata baru buat gambar. Kemudian pada Mei 2015, hasil dari bolak-balik kirim CV ke DBL Indonesia berbuah satu kursi di divisi Public Media Relation. Meski cuma empat bulan bergabung (yaelah chik, kayak anak magang) dan mau nggak mau dapet amanah megang DBL Surabaya, bisa dibilang that was the most both grateful and terrific part of 2015. Well, akhirnya aku merasakan gimana rasanya di kader ala ala Jawa Pos Group. Akhir Agustus 2015 aku diterima sebagai salah satu mahasiswa Program Transfer Sarjana Ilmu Komunikasi UNS *speechless* *sujud syukur* *2015 most galau moment* yang berhasil bikin aku bolak balik Surabaya-Solo tiga kali dalam dua minggu.
Bagian terbaik adalah bertemu dengan banyak orang yang hingga detik ini masih ngasih perubahan yang positif di hidupku. Yang ngajarin banyak hal yang sebelumnya nggak pernah aku tahu. Yang menawarkan kepercayaan ke aku untuk melakukan jobdes penting. Yang membuka mata kalo dunia ini teramat luas, teramat banyak yang bisa dipelajari, dan masing-masing dari kita berhak untuk terus belajar dan mengembangkan diri bahkan di umur yang nggak muda lagi.
Satu hal yang aku sadari saat ini, semua hal ini nggak pernah bisa dibilang ‘keren’ atau ‘sukses’ atau ‘wow’ kalo dibandingin dengan pencapaian-pencapaian temen-temen kuliah yang notabene udah kerja di perusahaan besar dan punya penghasilan dua sampe tiga kali lebih banyak dari aku. But at least I do it with my own way. Ignoring what society says and keep looking forward may be the most difficult part. Setidaknya meskipun nggak keren, hal-hal tersebut tetep ngasih pembelajaran dan pendewasaan sampe sekarang aku jadi the 2016 version of me. Bolak-balik merutuki diri sendiri karena nggak kunjung dapet pekerjaan yang keren atau merasa nggak bisa ngelakuin hal apapun adalah tindakan terbodoh sedunia akhirat yang aku lakukan. Nggak ada yang bisa mengunderestimate seseorang; tidak dirinya sendiri, tidak juga orang lain.
Selain itu belajar ikhlas adalah satu hal yang aku syukuri bisa aku diskusikan sama Mas Pandu yang selalu bilang ‘dilakoni wae’ di saat aku udah mencak-mencak senewen ketika aku nggak bisa dapet apa yang aku inginkan. Kalimat ‘tersesat di jalan yang benar’ akhir-akhir ini juga terus menggantung di depan mata seperti semboyan yang akhirnya makin menyata. Mungkin aku nggak akan pernah punya 6 wishlist absurd yang sekarang sangat aku syukuri kalo dulu aku ngotot jadi dokter gigi atau akhirnya nyerah kuliah MMB di tengah jalan. Hal-hal yang dulu rasanya berantakan, dikerjakan terpaksa, atau nggak kita sukai mungkin akhirnya akan menuntun kita ke jalan sesat yang malah lebih indah dari yang kita cita-citakan.
Well, 2015 merupakan tahun penuh krisis yang akhirnya malah paling membekas. Semacam kenangan, yang luka malah yang makin kerasa *tsah*. Banyak hal yang menekan namun justru pada akhirnya paling mendewasakan. Sesungguhnya dalam hidup ini, ada hal-hal yang perlu kita lakukan dan perjuangkan sebaik-baiknya. Tahun 2015 ala aku menarik kesimpulan bahwa all we have to do is believe that possibility is infinity. Nggak ada hal terbaik yang bisa dilakukan selain terus belajar, berusaha, dan bersyukur.
Cerita ini ditulis sebagai refleksi dan berbagi pengalaman selama tahun 2015
Sebenernya cuma satu masalah yang belakangan ini mendesak butuh jawaban.
"Apa? Mati lampu lagi?"
"Iya, mati lampu lagi, padahal nggak hujan"
"Serius kita tanpa lampu lagi"
"Kosan kamu mati lampu nggak?"
"Ah udah biasa"
"Ini aneh, seriusan aneh"
"Masih mati lampu, bukan mati rasa"
"Durumtakdeees................"
Well, hal aneh yang muncul di daerah Jebres adalah mati lampu tiap hujan dateng. Aku kira itu semacam mitos, atau legenda buat nakut-nakutin anak kosan aja biar lebih sigap dan sregep buat manfaatin waktu dengan bijak, karena seringnya ketika 'plooop...' maka berhentilah semua kegiatan yang bisa dilakukan. Masih bisa baca buku sih. Masih bisa bikin DIY sih. Masih bisa ngelamun juga sih. Whatever.
Nyatanya nggak cuma tiap hujan deres aja, tapi feels like all the time. Hampir setiap hari dengan durasi nggak tentu, kadang satu jam kadang lima jam. Kalo pas siang bikin makin panas dan kerasa gerah, kalo pas malem bikin banyak dzikir kalo kebetulan nggak punya lampu emergency atau lilin cadangan. I'm not one of them sih.
Jadi, nggak ada salahnya dong kalo mati lampu kita rayakan dengan bahagia sentosa, karena secara nggak langsung mati lampu bakal jadi budaya selama dua tahun ke depan di Solo hehehe. Nah, maka dari itu kali ini DIY Chandelier lah yang terpilih sebagai #WeekendProject, yeay!
*puter lagu Chandelier nya Sia*
Guys, you will need
1. Ranting pohon (you can get it anywhere, contohnya aku leles ranting kering di jalanan depan rektorat, LOL!)
2. Sloki, usahakan pilih yang bentuk tabung sempurna ya jangan yg terlalu mengerucut ke bawah (bener kan namanya sloki?)
3. Pernis
4. Kuas
5. Cutter
6. Lem craft
7. Tali
Pertama, potong-potong rantinya sesuai tinggi sloki atau lebih tinggi dari sloki, punya aku lebih tinggi sekitar 1,5cm dari bibir sloki sih. Pas pilih ranting ini sebenernya agak tricky, kamu harus pilih ranting pohon yang kira-kira berdiameter 0,7cm atau lebih kecil tapi jangan kekecilan. You can check mine.
Kemudian lapisi ranting yang udah dipotong-potong pake pernis. Hati-hati ya guys, karena lengket sekali tapi kabar baiknya kamu bisa ngilangin pernis yang nempel ditangan kamu dengan alkohol, bensin, thinner atau barang-barang sederhana yang bisa kamu temui di meja rias kamu kayak minyak wangi dan minyak kayu putih. HAHAHA. Ngelapisinnya sekali aja ya, jangan banyak-banyak karena pernis susah kering. Setelah semua sudah dilapisi pernis, jemur di bawah sinar matahari sampai kering. I need two days because it's rainy season, susah ya cyin dapet matahari terik. Setelah kering, ranting kamu bakal kelihatan glossy, wooo!
Next, lapisi bagian luar sloki dengan lem craft alias lem-serbaguna-bisa-buat-apa-aja. Sedikit demi sedikit aja biar nempel soalnya material yang bakal kita tempelin itu kaca dan kayu, kebayang kan sesusah apa nempelnya. Nempelnya ini terserah kalian mau rapi atau messed up, suka-suka lah ya. Mine look like this. Tapi tetep usahakan rantingnya lurus ya, jangan miring-miring kayak punya aku, karena bakal makin susah ngaturnya, that's why I told you to do one by one. Lem. Ranting. Lem. Ranting.
Last step! Lilitkan tali mengelilingi sloki yang udah ditempelin ranting itu, tujuannya biar makin kuat aja sih lemnya, biar nggak amburegul kemana-mana kayunya, sekaligus biar makin manis tampilannya. Kamu bisa pake tali daur ulang yang vintage-vintage itu loh biar makin sip. Aku nggak punya sih, jadi pake tali serat ini aja deh hahaha.
And thanks to me later, cause you already got your first DIY Chadelier~~~
Nah, jadi begitu, gampang pooooool kan yo rek?
Jadi setengah keki kamu karena mati lampu bakal ilang kalo ngeliat usaha yang udah kamu berikan buat bikin tempat lilin ini heuheuheu. Kalo kamu punya ide yang lebih kece untuk menyulap barang-barang yang kamu punya jadi tempat lilin yang ciamik, share dong di komen :D
One problem has been solved, now I'm ready for rainy season!
"Apa? Mati lampu lagi?"
"Iya, mati lampu lagi, padahal nggak hujan"
"Serius kita tanpa lampu lagi"
"Kosan kamu mati lampu nggak?"
"Ah udah biasa"
"Ini aneh, seriusan aneh"
"Masih mati lampu, bukan mati rasa"
"Durumtakdeees................"
Well, hal aneh yang muncul di daerah Jebres adalah mati lampu tiap hujan dateng. Aku kira itu semacam mitos, atau legenda buat nakut-nakutin anak kosan aja biar lebih sigap dan sregep buat manfaatin waktu dengan bijak, karena seringnya ketika 'plooop...' maka berhentilah semua kegiatan yang bisa dilakukan. Masih bisa baca buku sih. Masih bisa bikin DIY sih. Masih bisa ngelamun juga sih. Whatever.
Nyatanya nggak cuma tiap hujan deres aja, tapi feels like all the time. Hampir setiap hari dengan durasi nggak tentu, kadang satu jam kadang lima jam. Kalo pas siang bikin makin panas dan kerasa gerah, kalo pas malem bikin banyak dzikir kalo kebetulan nggak punya lampu emergency atau lilin cadangan. I'm not one of them sih.
Jadi, nggak ada salahnya dong kalo mati lampu kita rayakan dengan bahagia sentosa, karena secara nggak langsung mati lampu bakal jadi budaya selama dua tahun ke depan di Solo hehehe. Nah, maka dari itu kali ini DIY Chandelier lah yang terpilih sebagai #WeekendProject, yeay!
*puter lagu Chandelier nya Sia*
Guys, you will need
1. Ranting pohon (you can get it anywhere, contohnya aku leles ranting kering di jalanan depan rektorat, LOL!)
2. Sloki, usahakan pilih yang bentuk tabung sempurna ya jangan yg terlalu mengerucut ke bawah (bener kan namanya sloki?)
3. Pernis
4. Kuas
5. Cutter
6. Lem craft
7. Tali
Pertama, potong-potong rantinya sesuai tinggi sloki atau lebih tinggi dari sloki, punya aku lebih tinggi sekitar 1,5cm dari bibir sloki sih. Pas pilih ranting ini sebenernya agak tricky, kamu harus pilih ranting pohon yang kira-kira berdiameter 0,7cm atau lebih kecil tapi jangan kekecilan. You can check mine.
Kemudian lapisi ranting yang udah dipotong-potong pake pernis. Hati-hati ya guys, karena lengket sekali tapi kabar baiknya kamu bisa ngilangin pernis yang nempel ditangan kamu dengan alkohol, bensin, thinner atau barang-barang sederhana yang bisa kamu temui di meja rias kamu kayak minyak wangi dan minyak kayu putih. HAHAHA. Ngelapisinnya sekali aja ya, jangan banyak-banyak karena pernis susah kering. Setelah semua sudah dilapisi pernis, jemur di bawah sinar matahari sampai kering. I need two days because it's rainy season, susah ya cyin dapet matahari terik. Setelah kering, ranting kamu bakal kelihatan glossy, wooo!
Next, lapisi bagian luar sloki dengan lem craft alias lem-serbaguna-bisa-buat-apa-aja. Sedikit demi sedikit aja biar nempel soalnya material yang bakal kita tempelin itu kaca dan kayu, kebayang kan sesusah apa nempelnya. Nempelnya ini terserah kalian mau rapi atau messed up, suka-suka lah ya. Mine look like this. Tapi tetep usahakan rantingnya lurus ya, jangan miring-miring kayak punya aku, karena bakal makin susah ngaturnya, that's why I told you to do one by one. Lem. Ranting. Lem. Ranting.
Last step! Lilitkan tali mengelilingi sloki yang udah ditempelin ranting itu, tujuannya biar makin kuat aja sih lemnya, biar nggak amburegul kemana-mana kayunya, sekaligus biar makin manis tampilannya. Kamu bisa pake tali daur ulang yang vintage-vintage itu loh biar makin sip. Aku nggak punya sih, jadi pake tali serat ini aja deh hahaha.
Jadi setengah keki kamu karena mati lampu bakal ilang kalo ngeliat usaha yang udah kamu berikan buat bikin tempat lilin ini heuheuheu. Kalo kamu punya ide yang lebih kece untuk menyulap barang-barang yang kamu punya jadi tempat lilin yang ciamik, share dong di komen :D
One problem has been solved, now I'm ready for rainy season!
Guys, I'm officially move to Solo!
And I told you that I decorate my room, right?
Baru work desk aja sih yang didekorasi, tapi nggak papa lah ya ada kemajuan dikit huahahaha. I found that hanging my post card collections from 'Hidup Mati di Tanah Sengketa Tambak Bayan' will make my work desk interesting. And yeah, it's work! I love how each of pictures designed, cause it's like talk to me. My fave postcard, yang gambarnya 'drumulen' hahaha. Pojok kanan atas, iya itu namanya 'drumulen' kalo di Surabaya. Eh drumulen atau swing apa gitu ya. Gatau lupa deh hahaha. Pokoknya ngingetin aku sama jaman sekolah dasar, betapa antusiasnya aku untuk pergi ke Taman Remaja Surabaya dan rela antri cuma demi wahana ini :)
Yes, it's been 2 months I moved here to continue my study in communication major, Universitas Sebelas Maret Surakarta. And I got some hangover here, reminding the city is not apa-aja-ada like Surabaya. I'm starting to lose my job, my old frined, my organization, my community, my daily activity cause everything's start changing. Yep, call me the 'rantau' girl now.
Mengingat banyaknya perbedaan yang harus aku alami dalam waktu yang bersamaan, aku jadi terlihat sangat 'lewung'. Sehingga nggak banyak aktivitas yang bisa aku lakuin, karena aku baru aja kenal sama kota ini, But, the best thing is I have so so so much spare time cause the college schedule isn't tied me up, it's super 'selooooooooww', seperti kata orang Solo hehehe.
Minggu ini aku lagi komitmen buat sedikit bikin kamar kosku menjadi kamar yang sedikit bisa dibilang 'artsy' dan memanjakan mata. Karena selama 2 bulan ini kamar kos ku lebih terlihat kayak bakso tanpa caos; polosan. Ea. Then I decided to do make something, DIY of course! Maklum balik jadi mahasiswa tak berpenghasilan lagi hahaha.
Kali ini aku bakal bikin DIY Stationery Holder Organizer nih, bahasa Indonesianya lebih gampang. Wadah pensil. Hari ini aku sadar kalo ternyata aku nggak punya wadah pensil, penghapus dan blablabla selain kotak pensil yang aku bawa ke kampus. Sedangkan sebagian yang nggak dibawa ke kampus berserakan gitu aja di meja. Sampai akhirnya aku menemukan pot bunga plastik bekas es krim pot yang aku beli dulu. Naaaah, setelah diamati pot bunga ini nih yang akhirnya menjadi 'the main topic' buat DIY kali ini.
You will need:
1. Pot Bunga
2. Tali Serat (Inshaa Allah namanya bener, you can check the picture)
3. Gunting
4. Styrofoam
4. Styrofoam
5. Lem Crafting
6. Pernak-pernik (aku pake kancing kayu sih, sesuka kalian mau dihias kayak gimana, no boundaries)
Pertama, bersihkan dulu pot bunga plastik kamu. Jangan sampai kotor atau berdebu ya. Kenapa? Karena kebersihan itu sebagian dari iman. Beri alas pada dasar pot. Kamu bisa pakai kertas karton, atau karton tebal, atau styrofoam tipis. Fungsinya biar lubang-lubang di potmu bisa ketutup dan pensilnya nggak jatuh kemana-mana.
Kedua, beri lem pada badan pot bunga plastik, mulai dari bagian bawah dulu biar hasilnya bisa lebih rapi. Beri sedikit demi sedikit, lalu lilitkan tali serat melingkari badan pot bunga plastik. Lem. Lilit. Lem. Lilit. Lem. Lilit. Sampai menutupi semua badan pot. Nah usahain jangan memberikan lem terlalu banyak ya, karena nanti hasilnya bisa nggak rapi dan lemnya akan kemana-mana.
Voilaaaaaa!
Bakalan kayak gini deh jadinya, ahoooooy~
Seenggaknya nggak keliatan amat kan kalo itu pot bunga plastik bekas es krim pot wkwkwk
Setelah itu, kasih aja hiasan sesuka kamu. Mine look like this. Iya iya iya, ngaku deh, soalnya emang adanya cuma kancing kayu ini di kos huahahaha, jadi aku pake buat hiasan. But it's cute enough tho.
Baru work desk aja sih yang didekorasi, tapi nggak papa lah ya ada kemajuan dikit huahahaha. I found that hanging my post card collections from 'Hidup Mati di Tanah Sengketa Tambak Bayan' will make my work desk interesting. And yeah, it's work! I love how each of pictures designed, cause it's like talk to me. My fave postcard, yang gambarnya 'drumulen' hahaha. Pojok kanan atas, iya itu namanya 'drumulen' kalo di Surabaya. Eh drumulen atau swing apa gitu ya. Gatau lupa deh hahaha. Pokoknya ngingetin aku sama jaman sekolah dasar, betapa antusiasnya aku untuk pergi ke Taman Remaja Surabaya dan rela antri cuma demi wahana ini :)
Well, that's all. I hope you guys enjoy my DIY project. And today's DIY Project; this is what I call 'KEREATIF' :))))))



























